Fgd  kesiapan petani mendukung ispo Rokan Hulu dan sanggau

Dibuka oleh pak herryadi ,posisi riset petani pekebun swadaya, 4,7 juta hektar kebun sawit di Indonesia

  • Didalam draft prepres wajib petani mengikuti sertifikasi ispo, yang terbit juni ini . dngan itu petani wajib ispo 5 tahun lagi
  • Dilanjutkan oleh pak dedi , petani menjadi bagian penting bukan hal yg terpisah dari wacan penguatan ispo
  • Latar belakang penelitian, (dalam materi presentasi)
  • Di dinas daerah setempat tidak ada program maupun sosialisasi ispo kepada petani swadaya
  • Tingkat persentasi sertifikasi rendah
  • Petani swadaya dianggap organisasi ataupun calon organisasi
  • Data petani swadaya,luas lahan (dalam materi)
  • Proses sertifikasi
  • Kajian juga dilakukan beberapa lsm lain,
  • Ispo dianggap paling rendah secara integritas dan standarisasi
  • Ada 39 indikator yang perbandingan
  • Pengetahuan petani swadaya mengenai ispo masih sangat minim
  • Kemampuan financial petani juga minim dalam mengurus sertifikasi
  • Kebutuhan dan intervensi yang diperluakan untuk petani & Rekomendasi (dalam materi presentasi)
  • Biaya sertifikasi diperkirakan 300-400 juta
  • Respon dalam diskusi juga dengan petani membahas ispo
  • Presentasi selesei ,kembali ke ,pak herryadi, petani siap untuk disiapkan ,tp yang menjadi penghalang adalah integritas system sertifikasi yang masih dipertanyakan.
  • petani dalam konteks organisasi
  • Pembiayaan besar dalam mengurus sertifikasi harus ad skema yang mengatur ini

Sesi diskusi

Swito dari svks,persoalan petani swadaya bukanlah persoalan baru, sertifikasi menjadi momendum untuk petani berkonsulidasi untuk  bersama membangun aspek informasi dan komunikasi.

  • Menghitung value (untung rugi) dalam proses sertifikasi
  • Kelembagaan harus menjadi focus kurang pelatihan sertifikasi
  • Kurangnya pelatihan sertifikasi , seharusnya pelatihan sampai ke level petani
  • Ispo butuh percepatan
  • Pemilik kebun takut dengan pasar dan bank

Kembali ke pak dedi, Konflik lahan sulit diatasi

  • Intervensi pengetahuan di sanggau sudah tinggi
  • Pengorganisasian dilakukan untuk memperbaiki posisi tawar
  • Trainning memang sangat penting

 

Penanggap kedua bapak Amri

  • bagaimana ispo bisa diterima pasar?
  • Bibit tidak bersertifikat, indikasi standarisasi diawal yang lemah
  • Biaya untuk petani tidak harus disamaratakan dengan perusahaan

Kembali ke pak dedi, Renegoisasi dalam konteks svlk bisa dikloning ke ispo

  • Penentuan skala prioritas berbeda antar kelompok di sanggau, di rokan hulu permasalah lahan dan tata kelola petani menjadi masalah
  • Advokasi pembiayaan sertifikasi harus dibuka aksesnya

 

Penanggap ketiga ibu minang

  • Indonesia sulit mengejar standart Rspo
  • Beberapa perusahaan juga tidak memenuhi persyaratan
  • banyak hal yang perlu dibenahi untuk memanage petani & perkebunan
  • Pemda & Kemendag tidak dilibatkan dalam penguatan & sosialisasi ispo
  • Definasi petani dalam aturan belum ada
  • Permasalahan regulasi masih sangat kompleks

Kembali ke pak dedi,

  • istilah penguatan terkesan retoris , perombakan lebih tepat.

Penanggap keempat Pak coky

  • lebih diperjelas penujuannya dimana, 2) Pemda menjadi biang kerok dalam permasalahn ijin, yang Setuju dengan penanggap sebelumnya
  • mestinya diberikan Rekomendasi agak sedikit pincang, 1)terlalu banyak rekomendasikan ke tingkat nasional.namun harus rekomendasi ekstra, 3) Review untuk rekomendasi yang cost benefit.
  • Studi ini sudah layak untuk di publish dengan narasi advokasi ,prioritas sertifikasi .
  • Kembali ke Pak dedi
  • Posisi ispo belum bisa diparstikan dibawah payung kemenrian mana.

Penanggap kelima bapak Rio

  • program replanting disambut oleh banyak pihak
  • Permasalahan di pemerintah daerah , kebingungan dalam program yang berkenaan dengan sawit
  • Bagamana petani bisa menjaga kawasan tanpa arahan pemerintah setempat ,sementara pemerintah daerah tidak mendapatkan apa-apa dari sawit

Penangap ke enam  pak Riko

  • Pengetahuan tentang system pengelohan hutan sangat kurang.
  • Masyarakat tidak mendapat manfaat yang nyata saat menjaga kawasan
  • Pendamping diharapkan mampu membantu petani swadaya
  • Yang perlu adalah peningkatan produktivitas sawit yang belum memenuhi target 11 ton/hektar/tahun

Penutupan pak dedi & pak herriyadi

  1. Harus ada pra kondisi yang dikerjakan pemerintan
  2. Perbaikan tata kelola perkebunan termasuk juga system sertifikasi
  3. Riset harus terus dilanjutkan untuk advokasi dan juga subsidi bagi petani