Penerapan Gagasan Program Kemakmuran Hijau atas Inisiatif Pengelolaan Sumberdaya Alam Lestari oleh Masyarakat Adat di Luwu Utara

 

Desain proyek ini utamanya adalah memperkuat inisiatif masyarakat adat mengelola sumberdaya alam dengan menyelaraskan pemanfaatan nilai ekonomi, nilai ekologi dan nilai sosial. Masyarakat adat didampingi dalam menjaga konsistensi penerapan pengetahuan praktikal memelihara kelestarian sumberdaya alam, diintegrasikan dengan pengetahuan akademik untuk meningkatkan kinerja pengelolaan hutan lestari rendah emisi gas rumah kaca. Lebih lanjut, desain proyek juga akan meningkatkan pendapatan rumah tangga termasuk untuk tujuan inklusi sosial, dan meningkatkan kesetaraan gender. Diharapkan intervensi pada bentang alam investasi, juga dikenali manfaatnya terhadap wilayah sekitar dalam hubungan bentang alam investasi dan bentang alam pembangunan, pada aspek perbaikan lingkungan hidup dan kehidupan sosial-ekonomi dalam hubungan bentang alam dengan bentang kehidupan (landscape – lifescape). Dengan demikian, desain pengelolaan hutan adat tersebut, dengan mengambil lokasi di kawasan hulu dan tengah DAS, sangat potensial dikembangkan menjadi teladan (role model) untuk menginspirasi kelompok masyarakat lain melakukan inisiatif serupa, dan bagi pemerintah untuk aktif mereplikasi secara lebih meluas.

Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan, pertama adalah perbaikan praktek pengelolaan hutan lestasi dan rendah karbon dimana pencapaian kepentingan ekomomi akan diseimbangkan dengan pemenuhan nilai ekologis. Lokasi utama adalah di Hono, Lodang, dan Rinding Allo dengan tutupan hutan primer dan sekunder melebihi 50% luas wilayah adatnya, selain juga di Pohoneang dan Kalotok dengan tutupan hutan relatif lebih kecil. Perbaikan pengelolaan hutan ditargetkan meningkatkan produktivitas sumberdaya hutan bukan kayu dan wisata alam yang diperkirakan memberikan manfaat peningkatan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 234.638,- per bulan bagi 943 petani hutan (402 adalah perempuan) sebagai penerima manfaat proyek di kelima lokasi.

Kedua, memperkuat wirausaha untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dalam menciptakan peluang penghidupan masyarakat dengan mengembangkan unit usaha untuk industri kecil pengolahan. Pendekatan 1 komunitas – 1 komoditas diterapkan dengan menetapkan pusat pengolanan madu di di desa Kalotok, damar di desa Rinding Allo, kopi di desa Tana Makaleang, kakao di desa Lodang, dan beras lokal di desa Hono. Penerima manfaatnya yakni anggota unit usaha koperasi yang meliputi 368 orang (244 adalah perempuan) diproyeksikan meningkat pendapatan rata-ratanya senilai Rp. 862.319,- per bulan atau sebesar 68% dari pendapatan saat ini.

Ketiga, terkait dengan kegiatan pokok tersebut, partisipasi dan peran perempuan akan ditingkatkan dimulai dari bidang ekonomi melalui peningkatan pendapatan di lingkup keluarga dan kelompok, untuk kemudian memperoleh kesempatan yang sama dalam pengambilan keputusan di ruang publik.

Keempat, menyediakan PLTMH yang menunjang efisiensi biaya dan menaikkan potensi keuntungan di unit usaha dan rumah tangga, selain juga bermanfaat menurunkan emisi gas rumah kaca.Cara bersinergi dengan pemerintah yangjuga menjalankan program pengembangan energi terbarukan, akan dilakukan proyek ini dalam membangun PLTMH di desa Hono, Tanamakaleang, dan Lodang masing-masing berkapasitas 30 KW. Penerima manfaatnya adalah seluruh 914 keluarga di ketiga desa.Selain itu, energi listrik (termasuk di Rinding Allo dan Kalotok yang telah menikmati energi listrik) diutamakan untuk mamacu usaha produktif yang akan menjangkau penerima manfaatnya meliputi 368 anggota unit usaha (244 adalah perempuan).

Penerima manfaat sebagaimana diuraikan di atas, bila dipilahkan berdasar kegiatan, terdiri dari368 anggota unit usaha koperasi di lima desa, 914 rumah tangga pengguna energi listrik di tiga desa, dan 943 petani hutan di lima desa. Pelibatan penerima manfaat tersebut dalam proyek dilakukan melalui Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu dan Perkumpulan Celebes serta Pengurus Masyarakat Adat sebagai “jembatan” perubahan. Pendekatanpengembangan pengetahuan bersama petani akan diterapkan dalam meningkatkan pengetahuan petani hutan dalam terkait perbaikan praktek pengelolaan hutan lestari, pengembangan bisnis pengolahan komoditas, dan penggunaan listrik untuk keperluan produktif. Khususnya terkait pengelolaan lestari, masyarakat adat akan diajak bersama-sama untuk menggabungkan pengetahuan berbasis praktikal yang mereka kembangkan dengan pengetahuan berbasis akademis yang diperkenalkan oleh proyek ini. Kemudian, penyebarluasam kepada para penerima manfaat dilakukan dengan memfasilitasi pembelajaran dari petani ke petani menggunakan forum yang telah tumbuh di masyarakat sehingga lebih efektif dalam mempertukarkan pengetahuan.
Perempuan yang menjadi penerima manfaat dari seluruh penerima manfaat tersebut adalah 244 perempuan anggota lima unit usaha, 1.969 perempuan anggotadari 914 rumah tangga pengguna energi listrik di tiga desa, dan 402 perempuan petani hutan.Pelibatan mereka dalam proyek juga menggunakan “jembatan” perubahan yang sama, yakni melalui Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu dan Perkumpulan Celebes serta Pengurus Masyarakat Adat. Pendekatan utama yang akan diterapkan adalahappreciative iquiryyang pada dasarnya dimulai dengan menghargai secara positif perkembangan partisipasi dan peran perempuan yang semakin penting. Peran perempuan yang semakin penting dalam penghidupan rumah tangga, dalam pemanfaatan hasil sumberdaya hutan dan dalam kewirausahaan khususnya pemasaran akan digunakan untuk menggugah partisipasi perempuan di wilayah proyek. Termasuk untuk memfasilitasi bagaimana perempuan secara kolektif mengidentifikasi dan mengembangkan cara-cara dari pengalaman empirik yang berhasiluntuk mencapai kemajuan-kemajuan berikutnya. Selanjutnya, pendekatan afirmasi terhadap perempuan juga akan dialkukan dengan cara menargetkan sejumlah tertentu perempuan di dalam kepengurusan dan keanggotaan masyarakat adat, unit usaha koperasi, dan kelompok-kelompok masyarakan lainnya. Dalam proyek ditargetkan 30 perempuan aktif baik di dalam lembaga-lembaga tersebut maupun di dalam aktivitas-aktivitas proyek.

Pemangku kepentingan utama yang akan dilibatkan dari pihak pemerintah kabupaten Luwu Utara adalah Bappeda, Disperindagkop, dan Dishutbun. Pendekatan kolaboratif dengan pemerintah telah yang familiar dilakukan oleh 2 LSM yang menjadi mita lokal, merupakan potensi untuk melakukan sinergi pada tataran pelaksanaan dengan proyek-proyek pemerintah dan pada tataran perencanaan untuk mendorong program-program pendukung di tahun 2017 dan seterusnya, di antaranya melalui penyusunan RPJMD. Terlebih dengan adanya inisiatif Bappeda untuk menyediakan fasilitas ruang dan memfasilitasi koordinasi seluruh proyek MCA-Indonesia bersama SKPD-SKPD terkait. Pemangku kepentingan lainnya adalah LSM pelaksana proyek MCA-Indonesia PSDABM lainnya yang akan bekerja juga di Kabupaten Luwu Utara yakni KUPAS, Jurnal Celebes, YKL dan OWT. Lebih lanjut, terkait bentang alam pembangunan dalam wilayah DAS Karama, maka akan diidentifikasi juga LSM yang bekerja di wilayah tersebut di kabupaten Mamuju yang juga menjadi lokasi MCA Indonesia. Dengan pendekatan menjadikan unit pengelola hutan adat dengan kinerja terbaik sebagai role modelakan memudahkan upaya menggugah LSM lain dan pemerintah mendorong scaling up oleh kelompok masyarakat lainnya.

Khususnya untuk proyek energi terbarukan, sinergi dengan Distamben Luwu Utara telah dimulai dengan menelaah bersama informasi dalam Renja (Rencana Kerja) pengembangan energi terbarukan dan khususnya Studi Kelayakan PLTMH di Desa Hono (Lampiran 2.) sebagai salah satu lokasi proyek, juga informasi belum adanya rencana untuk dua lokasi proyek lainnya yang belum menikmati energi listrik. Awal sinergi ini diharapkan membuka kesempatan sinergi berikutya baik dalam penyusunan rancangan rekayasa detail, pelelangan, pemantauan pembangan, pengoperasian hingga penggunaan untuk keperluan unit usaha produksi komoditas yang relatif merupakan gagasan baru.