Mengapa Memilih LEI?

Skema Sertifikasi LEI Unik untuk Indonesia, Terpercaya untuk Pasar

Sertifikasi adalah instrumen pasar untuk meyakinkan publik bahwa suatu produk telah memenuhi kualitas tertentu dalam standard pengelolaan hutan yang adil dan lestari. Ada berbagai macam skema sertifikasi hutan di dunia ini, antara lain : Certfor Chile, CSA, FSC, LEI, MTCC, PEFC, dan SFI. Masing-masing skema sertifikasi memiliki kualitas tersendiri sesuai dengan landasan dan tujuan pengembangan masing-masing skema sertifikasi.
Pengembangan skema sertifikasi LEI dilandasi atas kebutuhan Indonesia untuk mendorong terciptanya prakondisi (kondisi pemungkin) ke arah pengelolaan hutan lestari di Indonesia. Kompleksnya masalah pengelolaan hutan di Indonesia menyebabkan sertifikasi LEI menjadi salah satu instrument yang diharapkan oleh banyak pihak dapat memperbaiki kondisi pengelolaan hutan di Indonesia. Komponen yang menyebabkan kompleksitas pengelolaan hutan antara lain adanya tumpang tindih kebijakan, kebijakan yang tidak sesuai, banyaknya pihak yang berkepentingan, dan tipe pengelolaan hutan di Indonesia yang bermacam-macam.

Dengan latar belakang demikian maka skema sertifikasi yang dikembangkan LEI ditujukan untuk mencapai kualitas keadilan dan kelestarian pengelolaan hutan. Kualitas keadilan dan kelestarian tersebut dituangkan baik ke dalam criteria dan indicator penilaian maupun tahapan proses sertifikasi LEI.

Ada beberapa alasan mengapa Skema Sertifikasi LEI unik terhadap skema yang lain :

  1. Skema sertifikasi LEI didesain khusus untuk konteks pengelolaan hutan di Indonesia.
  2. Skema sertifikasi LEI memiliki fokus, komitmen, dan keberpihakan kepada masyarakat petani hutan/adat.
  3. Segala prosesnya melibatkan pendekatan multistakeholder yang didukung oleh NGO/LSM, masyarakat adat, pengusaha hutan, dan pemerintah.
  4. LEI mengembangkan 3 sistem sertifikasi bagi 3 tipe pengelolaan hutan yang ada di Indonesia, yaitu hutan alam produksi, hutan tanaman, dan hutan berbasis masyarakat.
  5. Adanya fasilitasi forum komunikasi di daerah untuk menjamin proses sertifikasi di lapangan transparan, media resolusi konflik, dan media menyusun perwakilan daerah dalam pengambilan keputusan sertifikasi.

Sertifikasi LEI bermanfaat bagi :

  1. Para pengusaha hutan dapat membuktikan praktek pengelolaan hutan lestari yang dilakukan di arealnya, menunjukkan legalitas pengelolaannhya dan komitmennya terhadap lingkungan, yang dalam prosesnya semua itu dapat meningkatkan transparansi dalam manajemen hutan. Pengusaha juga dapat menikmati akses yang meningkat ketika dapat menembus pasar yang ecosensitive.
  2. Konsumen dengan daya belinya dapat berperan dalam mendorong kelestarian hutan, perlindungan lingkungan dan ekosistem, sampai kepada berperan dalam membantu kelangsungan komunitas hutan adat di hutan belantara Kalimantan. Label pada produk bersertifikat LEI merupakan simbol yang menyatakan bahwa produk ini kayunya berasal dari hutan yang asal usulnya legal dan lestari, sedangkan produk yang tidak mempunyai label kayunya berasal dari sumber yang tidak jelas baik legalitas maupun asal usulnya.
  3. Pedagang/industri dapat menggunakan bahan baku bersertifikat LEI untuk memenuhi permintaan konsumen yang, kian lama kian meningkat, atas produk-produk yang ramah lingkungan.
  4. Komunitas masyarakat petani hutan dan masyarakat adat dapat memanfaatkan sertifikasi sebagai bentuk pengakuan pasar terhadap upaya-upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat, yang dapat membantu pengakuan formal atas keberadaan masyarakat petani/adat sebagai komunitas pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang telah melestarikan hutan.