Batu Padas Itu Kini Jadi Ijo Royo-royo

Batu Padas Itu Kini Jadi Ijo Royo-royo

Batu Padas Itu Kini Jadi Ijo Royo-royo 150 150 lei

Wonogiri Mengubah kawasan kering, tandus di selatan Jawa mulai dari Gunungkidul, Wonogiri hingga Pacitan menjadi hutan yang mendatangkan keuntungan bukanlah perjuangan mudah. Berikut laporan wartawan SOLOPOS, Suharsih, dari perjalanan dua hari menelusuri hutan rakyat di kawasan selatan Jawa, Rabu-Kamis (21-22/4).

Menelusuri kawasan selatan Jawa mulai dari Gunungkidul, Yogyakarta; Pracimantoro, Giriwoyo, Batuwarno, Wonogiri hingga Pacitan, Jawa Timur, menjadi perjalanan menyenangkan. Hamparan hijau pepohonan dan tanaman terbentang sejauh mata memandang dengan gundukan bukit di kiri kanan jalan.

Hampir tidak terlihat sama sekali batu-batu padas yang menjadi struktur utama sebagian besar kawasan yang termasuk gugus karst itu. Semuanya sudah tertutup oleh tanaman, mulai dari jati, sengon, trembesi, mahoni dan tanaman kayu lainnya.

Di sela-sela tanaman itu, tumbuh berdampingan tanaman semusim seperti singkong, kacang dan lain-lain yang ditanam petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Upaya penanaman hutan di wilayah selatan Jawa itu telah dilakukan sejak 1950-an. Keterbatasan akses pada hutan negara, rusak dan kritisnya lahan dan lingkungan sekitar, serta kebutuhan akan kayu, pakan ternak, dan sumber air, mendorong masyarakat menanami lahan miliknya dengan tanaman kayu (tahunan) di samping tanaman semusim. Maka kemudian tumbuhlah hutan rakyat, yang dinamai dengan macam-macam istilah oleh masyarakat setempat mulai dari wana, alas, talun, kebun campur dan lembo.

Masyarakat Selopuro, Kecamatan Batuwarno sebagai kelompok masyarakat pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) pada 2004, membutuhkan waktu kurang lebih 20 tahun untuk menumbuhkan budaya menanam dan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan tetap lestari.

Beberapa pelopor penanaman hutan di Selopuro dan Batuwarno umumnya, seperti Misman dan Siman, merasakan betul beratnya tantangan itu. Bersama LSM Persepsi sebagai pendamping, mereka mematahkan tantangan itu, sehingga kini mereka bisa dengan bangga menyebut laju penanaman lebih tinggi dibandingkan laju penebangan.

”Pada awal rintisan, kami bahkan sampai melakukan pembibitan sendiri dan hasilnya kami bagikan kepada masyarakat sekitar sini agar mereka mau menanami lahannya dengan tanaman kayu,” ujar Misman. – Oleh : Suharsih

Sumber: Klik Di Sini