Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun

Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun

Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun 150 150 lei

(Sinar Harapan, 08 Agustus 2008): Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun Putussibau–Dalam pengamatan perjalanan yang dilakukan SH mulai Selasa (5/8) hingga Kamis, terlihat kondisi hutan adat Utik memang terhitung asli. Beberapa kayu bernilai tinggi seperti ramin dan jelutung masih tumbuh dengan subur dan besar. Sungai Utik yang mengalir tak jauh dari rumah adat terlihat jernih, hingga terasa tak segan untuk mandi di dalamnya.

Bandi, Ketua Adat Masyarakat Iban dari Sungai Utik, yang kerap dipanggil Pak Janggut, menyatakan setidaknya kondisi hutan adat mereka tetap dipertahankan asli semenjak perpindahan pertama mereka ke daerah tersebut tahun 1972 lalu. “Hutan adalah sumur dunia. Dari hutan ada banyak air keluar, tanah juga terjaga. Tanpa tanah kita bukan apa-apa,” ujar Pak Janggut menjelaskan dasar pemikiran mereka dalam mempertahankan hutan.

Karena dianggap sudah 38 tahun menjaga kelestarian hutan dengan mempertahankan budaya adat turun-temurun, Suku Dayak Iban yang berdiam di pinggir Sungai Utik, Kalimantan Barat, menerima sertifikasi ekolabel. “Suku Adat Sungai Utik mampu menunjukkan kelestarian hutan juga bisa tercapai bila dikelola secara adat,” kata Taufik Alimi, Direktur Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), pada saat penyerahan sertifikasi di rumah panjang suku Iban Utik, Kamis (7/8). Parameter pencapaian sertifikasi tersebut, menurut Taufik, terdiri dari tiga bagian besar penilaian yaitu sisi ekologi, sosial dan ekonomi. “Setidaknya sembilan ribu hektare lahan yang dikelolah secara turun-temurun oleh orang adat Utik mampu dipertahankan hingga sekarang,” kata Taufik.

Dengan adanya sertifikasi tersebut, menurut Pak Janggut, akan makin menguatkan bahwa jalan yang mereka pilih dalam mempertahankan hutan adat bukan arah yang salah mengingat kebanyakan hutan di sekeliling tanah adat mereka, sekarang telah mulai kritis terjamah industri penebangan kayu. Tercatat ada tiga perusahaan penebangan kayu kini mengepung kawasan adat mereka. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Benua Indah, PT Bumi Raya Utami WI, dan PT Landjak Deras Jaya Raya yang diklaim diinvestasi oleh investor dari Malaysia dan mengirimkan kayu-kayunya ke Malaysia.

Sementara itu, Menteri Kehutanan RI MS Kaban yang juga hadir dalam penyerahan sertifikasi tersebut menyatakan kalau apa yang dilakukan kaum adat Utik ini menunjukan dengan cara adat, kelestarian hutan juga bisa tercapai. “Peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran bagi kaum adat yang lain. Bahwa dengan cara adat hutan tetap bisa lestari dan diakui sistem pengelolaannya oleh dunia modern,” kata Kaban. Wakil Bupati Kapuas Hulu Drs Alexander MSc turut bergembira juga dengan diberikannya sertifikasi tersebut. Dalam sambutannya, Alexander berharap agar dalam pengambilan keputusan pemberian anggaran daerah, turut pula diperhatikan masalah kemampuan melestarikan hutan seperti kasus orang adat Utik ini. Jadi tidak hanya berdasar pada luas wilayah serta jumlah penduduk, seperti yang dilakukan sekarang. (sulung prasetyo) Diunduh dari : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/08/kesra02.html