Pelestarian Lingkungan Hutan Rakyat Bersertifikasi

Pelestarian Lingkungan Hutan Rakyat Bersertifikasi

Pelestarian Lingkungan Hutan Rakyat Bersertifikasi 150 150 lei

(Yogyakarta, 08 Juli 2008-Kompas): Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia dan TUV Jerman, Kamis (21/9), dalam acara Pekan Raya Hutan dan Masyarakat 2006 di Grha Sabha Pramana UGM.

Sertifikasi itu akan menaikkan harga jual produksi kayu jati dari hutan rakyat seluas 815,18 hektar yang dikelola tiga sub-unit kelompok tani di bawah Koperasi Wana Manunggal Lestari yaitu Desa Girisekar (Panggang) yang dikelola Paguyuban Kelompok Tani Sekar Pijen, Desa Dengok (Playen) yang dikelola Paguyuban Kelompok Tani Ngudi Lestari, dan Desa Kedungkeris (Nglipar) yang dikelola Paguyuban Kelompok Tani Margo Mulyo.

Direktur Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) Taufig Alimi mengatakan, melalui sertifikasi itu semua produk kayu akan mendapat label sebagai kayu legal dan ramah lingkungan, karena diperoleh bukan dengan merusak hutan. “Gunung Kidul ini merupakan yang kedua mendapat sertifikasi dari LEI setelah Wonogiri. Melalui label itu, petani diharapkan punya daya tawar untuk menaikkan harga,” ujar dia.

Sebagai lembaga sertifikasi, LEI menentukan standardisasi terhadap kualitas hutan rakyat melalui tiga kriteria. Pertama, aspek ekologi yang mencakup kemampuan petani mempertahankan kelestarian fungsi-fungsi hutan sebagai penyerap air dan rumah satwa. Kedua, aspek produksi meliputi kemampuan hutan berproduksi secara berkelanjutan. Ketiga, aspek sosial yang berkaitan dengan pengelolaan oleh masyarakat secara berkeadilan.

Berdasarkan pengukuran lapangan yang dilakukan TUV, lembaga sertifikasi dari Jerman yang diakreditasi LEI, hutan rakyat di tiga desa itu memenuhi ketiga persyaratan. (RIS)