Riaupulp Pertahankan Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari LEI

Riaupulp Pertahankan Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari LEI

Riaupulp Pertahankan Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari LEI 150 150 lei

(Jakarta, 08 Juli 2008-Riauterkini): Berdasarkan hasil penilikan I (surveillance audit) yang dilakukan lembaga sertifikasi PT Mutuagung Lestari, PT Riau Andalan Pulp And Paper (Riaupulp) berhasil mempertahankan Sertifikasi Pengelolan Hutan Tanaman Lestari (PHTL) dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yang diraih Riaupulp tahun 2006 lalu. Pengumuman hasil penilikan sertifikat PHTL LEI Riaupulp ini dilakukan Selasa (7/8) besok di Jakarta .

Kegiatan penilikan yang dilakukan lembaga sertifikasi kepada perusahaan yang berhasil mendapatkan sertifikat PHTL LEI dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja unit manajemen yang bersangkutan untuk memutuskan selanjutnya apakah sertifikat tersebut masih layak untuk diberlakukan. Penilikan terhadap kinerja unit manajemen dilakukan minimum empat kali selama masa berlakuknya sertifikat yakni lima tahun.

Direktur Eksekutif Lembaga Ekolabel Indonesia , Taufiq Alimi senin (6/8) mengatakan, Riaupulp merupakan satu-satunya perusahaan hutan tanaman yang memperoleh sertifikat LEI pada Maret 2006 lalu. Setiap tahun, lembaga sertifikasi yang ditunjuk LEI melakukan audit penilikan untuk menilai apakah sertifikasi masih layak diberikan atau dicabut. Untuk sertifikasi Riaupulp dilakukan oleh PT Mutuagung Lestari, dimana keberhasilan ini dituangkan dalam surat No. 673.3/MUTU/VI/07.

“Dari hasil audit, kita melihat komitmen serius Riaupulp untuk menjalankan pengelolaan hutan yang lestari. Kami menilainya secara ketat, dari aspek sosial dan aspek lingkungan. Riaupulp berhasil mempertahankan sertifikat PHTL LEI untuk penilikan tahun pertama,” kata Taufiq.

Sertifikasi ini diberikan untuk areal konsesi Riaupulp sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.137/Kpts-II/ 1997 seluas 159.500 ha. Sertifikat itu berhasil dipertahankan karena Riaupulp memenuhi kaidah yang ditetapkan LEI dalam mengelola hutan tanaman industri sebagai bentuk pengelolaan hutan yang lestari. Aspek sosial mencakup hubungan dengan masyarakat serta penanganan perburuhan. Sedangkan aspek lingkungan dinilai dari tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan hidup.

Taufiq menambahkan, sejalan aturan pemerintah, saat ini dibutuhkan perusahaan sumber daya alam yang melakukan pengelolaan hutan yang lestari, memiliki nilai tambah bagi pemasaran, dan menjadi patron cara menjalankan bisnis berbasis sumber daya alam yang benar.

“Riaupulp harus terus meningkatkan pengelolaan hutan secara lestari dan berkeadilan. Ini penting agar bisnis yang dijalankan tidak mencederai keadilan, terkait dengan masyarakat sekitar hutan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Riaupulp Rudi Fajar didampingi PR Coordinator Riaupulp, Salomo Sitohang menegaskan, keberhasilan ini merupakan bukti komitmen dalam menjalankan indusri kehutanan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

“Sertifikat ini memastikan bahwa produk Riaupulp berasal dari hutan tanaman yang dikelola berkelanjutan dengan memadukan keseimbangan aspek sosial dan lingkungan,” tegas Rudi.***(H-we)