Batuwarno

Mata Air hingga Mata Pencaharian Bermunculan

Mata Air hingga Mata Pencaharian Bermunculan 150 150 lei

Air mancur setinggi lebih dari 10 meter tiba-tiba muncrat dengan kencang saat tuas pompa sumur bor itu diputar membuka, menciptakan percik-percik hujan di sekeliling sumur. Orang-orang yang ada di sekitar sumur itu pun langsung berlari menghindar agar tidak kecipratan.

Sumur bor yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri itu dibuat pada tahun 2000. Warga menemukan sumber air dengan debit mencapai ratusan meter kubik per detik itu.

Kini dengan mata air tersebut, tidak kurang dari 680 keluarga di desa itu dan sekitarnya bisa mendapat pasokan air bersih dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun. Mereka tidak perlu lagi berjalan berkilo-kilo meter untuk ngangsu air.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata di desa itu masih ada 22 sumber air serta 16 sumber lagi di Desa Selopuro yang belum dieksplorasi dan dimanfaatkan.

Semuanya muncul setelah tanah-tanah milik warga di kedua desa tersebut diubah menjadi hutan rakyat.

”Sebelum hutan rakyat tumbuh, tanah di sini gersang dan tandus. Sumber mata air sangat jauh. Tapi setelah penghijauan berhasil, sumber air itu seolah bermunculan di mana-mana,” kata salah satu warga Selopuro, Katmo.

Gotong royong
Wakil Direktur Persepsi, Taryanto Wijaya, yang selama bertahun-tahun mendampingi warga Selopuro dan Sumberejo dalam upaya penyelamatan lingkungan, mengatakan warga sendiri yang membuka sumber air itu.

Bergotong-royong, mereka menyingkirkan batu-batu, kemudian mengebor sumur dan memasang pompa dengan tenaga listrik enam kali 450 Watt.

”Di sini juga telah dibentuk kelompok untuk mengelolanya, membagikan air secara merata kepada seluruh warga,” ujar Taryanto.

Sementara di Desa Selopuro, seperti diungkapkan pelopor penanaman hutan rakyat setempat, Misman, dibuat bendungan untuk menampung aliran air dari sumber air. Dari bendungan tersebut, warga bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari serta untuk mengairi sawah dan ladang. Menurut Misman, untuk pembuatan bendungan itu, dirinya dan warga harus mengangkut batu sebanyak 1.168 truk.

Selain sumber mata air, dampak positif lain dari hutan rakyat adalah lapangan pekerjaan baru. Sejauh ini yang sudah dikembangkan adalah kerajinan dengan memanfaatkan ranting pohon jati, mahoni dan sebagainya. Warga bisa mendapatkan manfaat dari hutan rakyat tanpa harus menebang.

Bagi kebanyakan orang, ranting-ranting itu hanya sampah tiada guna, paling hanya dijadikan kayu bakar. Namun, di rumah Siman, di Desa Selopuro, ranting-ranting itu dikumpulkan dan diolah menjadi aneka perabot rumah yang bernilai seni.

Biasanya yang dibuat adalah seperangkat meja dan kursi, sofa dan almari. Ranting-ranting berdiameter sekitar 5 cm itu disusun dan ditata sedemikian rupa dan dibentuk. Beberapa di antaranya ditambah lempengan kaca.

”Sementara ini, kami baru mengerjakan pesanan dari PT Jawafurni Lestari di Yogyakarta. Usaha ini dijalankan dengan 6-8 karyawan,” ungkap Siman.

PT Jawafurni Lestari adalah sebuah eksportir furnitur khusus dari bahan kayu bersertifikat. Selain kepada mereka, Siman belum memasarkan secara luas. – Oleh : Suharsih

Sumber: Klik Di Sini