Climate Change

Sertifikasi Ekolabel Mendorong Mitigasi Dampak Perubahan Iklim

Sertifikasi Ekolabel Mendorong Mitigasi Dampak Perubahan Iklim 150 150 lei

BOGOR, 10 Agustus 2009- Pelestarian hutan dan perlindungan kekayaan alam penting dalam mitigasi dampak perubahan iklim. Dalam pertemuan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali 2007 yang lalu terungkap bahwa tingginya tingkat deforestasi telah menurunkan kemampuan hutan dalam mitigasi dampak negatif perubahan iklim. Bahkan menurut Greenpeace (2009) dalam kampanyenya, deforestasi global bertanggung jawab atas sekitar 20% emisi gas rumah kaca. Mitigasi merupakan campur tangan manusia untuk mengurangi sumber gas rumah kaca (GRK).

Pengelolaan hutan yang lestari mampu menjamin hasil hutan yang terus menerus , menyerap karbon untuk mitigasi dampak perubahan iklim dan membawa manfaat ekonomi, sosial dan jasa lingkungan lainnya, sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati. “Hutan yang mampu berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah hutan yang kondisinya masih baik, dan memiliki jaminan dalam jangka waktu yang lama tidak mengalami perubahan lingkungan dan perubahan peruntukkan yang berdampak besar,” Haryanto R. Putro, Peneliti Senior Kehutanan IPB menuturkan.

Pengelolaan hutan yang baik disertai dengan penanaman mampu menyerap karbon yang pada akhirnya dapat mengurangi konsentrasi karbon di udara yang menyebabkan pemanasan global. Menurut studi FAO tahun 2006, penanaman pohon dapat menyerap karbon dalam jumlah yang besar dari udara dalam waktu yang relatif lebih pendek. Hutan dapat menyimpan sekitar 15 ton karbon/ha/tahun dalam bentuk biomassa dan kayu (FAO, 2006).

“Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) sebagai lembaga non-profit yang selama ini terdepan dalam mengembangkan standar sertifikasi hutan di Indonesia mengambil inisiatif mendorong pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, khususnya hutan, untuk berkontribusi pada upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan optimalisasi jasa lingkungan yang adil. Adil bagi bagi pihak pengusaha yang memerlukan kompensasi lingkungan, adil bagi para pelestari hutan, dan adil bagi komunitas masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan,” ujar Agung Prasetyo, Direktur Eksekutif LEI, menjelaskan.

LEI sedang mempersiapkan diri untuk mengembangkan sistem sertifikasi karbon di Indonesia bekerjasama dengan Departemen Kehutanan. Menurut Agung Prasetyo, para pemilik hak kelola hutan, baik hutan alam maupun hutan rakyat, merupakan pemelihara bahan baku karbon (offset karbon) yang dapat dikelola untuk mitigasi dampak perubahan iklim dalam bentuk pengelolaan hutan yang adil dan lestari. Para pemilik hak kelola hutan dapat menyatakan bahwa hutannya memiliki kemampuan berperan dalam mitigasi dampak perubahan iklim apabila sudah memiliki sertifikat ekolabel. Para pemegang sertifikat ekolabel LEI diawasi dan dinilai kinerja dan komitmen mereka dalam pengelolaan hutan lestari. Diperkirakan pasar offset karbon berkisar antara $4 – $10 per ton CO2 yang tersimpan.

Dalam konteks keanekaragaman hayati, Taufiq Alimi Direktur Komunikasi dan Sumberdaya Kehati mengungkapkan,” Kualitas keanekaragaman hayati merupakan indikator kualitas ekosistem dan perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim global mempunyai potensi menurunkan kualitas ekosistem yang akan menurunkan kualitas keanekaragaman hayati. Perubahan iklim mempunyai potensi ancaman yang besar terhadap keanekaragaman hayati karena perubahan iklim mengancam kehidupan banyak species.”

Menanggapi itu Agung Prasetyo, Direktur Eksekutif LEI menegaskan,”LEI terus berupaya mempromosikan multiplier effects dari pengelolaan hutan yang adil dan lestari, antara lain jasa lingkungan, perlindungan Daerah Aliran Sungai, berjalannya mekanisme penyerapan karbon (carbon sequestration) untuk mitigasi dampak perubahan iklim, terjaminnya carbon stock, dan fungsi rekreasi alam dan keanekaragaman hayati dari hutan.

Tentang Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI)
LEI adalah organisasi non-profit berbasiskan konstituen yang mempunyai misi untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Sistem Sertifikasi LEI digunakan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Saat ini lebih dari 1,5 juta ha hutan di Indonesia telah mendapatkan sertifikat hutan lestari dari LEI.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Indra S. Dewi, Lembaga Ekolabel Indonesia,
lei@lei.or.id,
ph: +62-251-8340744 dan 08128161339.