Ekonomi Hijau

LEI Gagas Paradigma Baru Keberlanjutan Ekologi Bertekad Tampil Sebagai Pahlawan Transformasi Ekonomi Hijau

LEI Gagas Paradigma Baru Keberlanjutan Ekologi Bertekad Tampil Sebagai Pahlawan Transformasi Ekonomi Hijau lei

Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) menggagas paradigma baru keberlanjutan ekologi. Kongres III LEI yang dilangsungkan di Bogor, 9-11 Oktober 2014, diharapkan dapat memperkuat peran organisasi dalam mendorong terwujudnya pembangunan tata kelola sumberdaya alam yang lestari dan adil, yang dapat memberikan manfaat baik secara ekonomi, sosial, maupun ekologi.

Anggota Majelis Perwalian Anggota (MPA) LEI 2009-2014, Haryanto R. Putro dalam presentasinya di sela-sela Kongres III LEI, mengemukakan, organisasi tersebut perlu menggagas paradigma baru keberlanjutan ekologi demi terwujudnya tata kelola sumberdaya alam yang lebih adil bagi semua.

Haryanto R. Putro, yang juga tercatat sebagai dosen Institut Pertanian Bogor, paradigma baru keberlangsungan ekologi yaitu, tata kelola sumberdaya alam yang memperhatikan tiga aspek secara seimbang, yakni ekonomi, sosial, dan ekologi. Pengelolaan sumberdaya alam haruslah memberikan manfaat bagi masyarakat baik dalam hal ekonomi, sosial maupun ekologi.

Menurut dia, paradigma keberlanjutan dalam konteks proses-proses perubahan sosial politik diwujudkan dengan melakukan intervensi pembangunan ekonomi, infrastruktur dan sosial budaya dengan memperhatikan faktor modal sosial masyarakat. Institusi lokal perlu diberdayakan melalui pelestarian kearifan tradisional dan perawatan adat istiadat dan budaya.

Selain itu daya dukung dan daya tampung lingkungan juga perlu mendapatkan perhatian. Begitu pula dengan jasa ekostem perlu dikelola secara lebih baik lagi.

Dengan demikian, berbagai pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong terwujudnya keberlanjutan ekologi berbasis fisiografi, sumberdaya alam, dan keanekaragaman hayati (biodiversitas).

Untuk mendorong terwujudnya paradigma tersebut, ia mengusulkan agar Lembaga Ekolabel Indondesia merumuskan visi LEI 2030 menjadi pahlawan transformasi ekonomi hijau dengan misi utama pengembangan standar dan sistem sertifikasi pengelolaan sumberdaya alam lestari, mendorong pembaruan kebijakan dan kelembagaan ekonomi hijau, penguatan kapasitas aktor ekonomi hijau, dan pengembangan jejaring berbasis konsituensi ekonomi hijau.

Gerakan membangun LEI sebagai pahlawan transformasi ekonomi hijau dapat dimulai dari periode lima tahun ke depan, dengan melaksanakan tujuh program prioritas. Pertama, standar dan sistem sertifikasi pengelolaan sumberdaya alam lestari (hutan, jasa lingkungan, ekoturism). Kedua, materi ajar ekonomi hijau yang diadopsi pada pendidikan formal dan non formal. Ketiga, community enterprises yang bergerak dalam ekonomi hijau.

Selanjutnya, guideline best practices untuk ekonomi hijau Pengelolaan SDA. Kelima, jejaring konstituen yang semakin kokoh di seluruh wilayah Indonesia. Keenam, memperkokoh keandalan organisasi LEI. Terakhir, intervensi penguatan kebijakan dan tata kelola pengelolaan sumberdaya alam (hutan, lahan, sda lainnya).