Hutan Adat

Belajar Sampai ke Dayak Iban Sungai Utik, Kapuas Hulu

Belajar Sampai ke Dayak Iban Sungai Utik, Kapuas Hulu 150 150 lei

Kapus Hulu, 13/8, (Modus.or.id): Bila pemerintah Indonesia serius menangani korupsi, maka sebaiknya belajar pada suku bangsa Dayak Iban, di Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu,Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mereka hidup seakan tanpa mempunyai ambisi memperkaya diri secara berlebihan dengan jalan melakukan korupsi, tapi lebih memilih hidup komunal dan bersahaja. Mereka jauh dari ambisi sebagaimana yang ditunjukkan “manusia modern” saat ini untuk korupsi apalagi untuk merusak hutan yang mereka kelola di wilayah mereka tinggal. Namun, jangan anggap remeh soal kepedulian masyarakat Dayak Iban dalam melestarikan hutan. Mereka saat ini mendiami wilayah ketemenggungan 7 kampung ‘Jalai Lintang’ , yaitu Lauk Rugun,Mungguk,Pulan, Apan(Langgan Baru), Ungak, dan Sungai Tebelian.

Keseriusan masyarakat Dayak Iban dalam menjaga hutan pada akhirnya mendapat perhatian pemerintah pusat. Buktinya , Kamis 7 Agustus 2008 putra terbaik Dayak Iban, Bandi Anak Ragai alias Pak Janggut menerima Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari pada masyarakat Kampung Sungai Utik, yang diserahkan langsung oleh Menhut MS. Kaban.

Sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropah menyelenggarakan program kerja bersama di Kampung Sungai Utik, Kec. Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Program kerja ini juga melibatkan peran 3 organisasi pendampingan masyarakat yang membantu dalam mempersiapkan implementasi standar Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) yang mungkin diperankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional.

Direktur Eksekutif LEI, Taufik Alimi mengatakan, sejak bulan Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi Pengelolaan Hutan berbasis Masyarat Lestari (PHBML) oleh PT. Mutu Agung Lestari (PT. MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI. Penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) merupakan sebuah pengakuan bahwa apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Kampung Sungai Utik dalam menjaga kelestarian hutan layak dihargai dalam sebuah pengakuan berupa Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari. Berlangsung di tempat yang unik, Rumah Panjang Kampung Sungai Utik; Jl. Lintas Utara Putussibau-Badau Km. 77,8, Kec. Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat penyerahan Sertifikat Ekolabel Pengelolaan Hutan Lestari pada Masyarakat Iban berlangsung sukses.(Red).

Diunduh dari : http://www.modus.or.id/aspirasi/iban.html

Taufik Alimi: Sertifikasi, Penghargaan Bagi Penjaga Hutan

Taufik Alimi: Sertifikasi, Penghargaan Bagi Penjaga Hutan 150 150 lei

Jakarta, 12/8 (Suaratokoh.com): Direktur Eksekutif LEI, Taufik Alimi mengatakan, sejak bulan Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi Pengelolaan Hutan berbasis Masyarat Lestari (PHBML) oleh PT. Mutu Agung Lestari (PT. MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI. Penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) merupakan sebuah pengakuan bahwa apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Kampung Sungai Utik dalam menjaga kelestarian hutan layak dihargai dalam sebuah pengakuan berupa Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari.

Bila pemerintah Indonesia serius menangani korupsi, maka sebaiknya belajar pada suku bangsa Dayak Iban, di Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu,Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mereka hidup seakan tanpa mempunyai ambisi memperkaya diri secara berlebihan dengan jalan melakukan korupsi, tapi lebih memilih hidup komunal dan bersahaja. Mereka jauh dari ambisi sebagaimana yang ditunjukkan “manusia modern” saat ini untuk korupsi apalagi untuk merusak hutan yang mereka kelola di wilayah mereka tinggal. Namun, jangan anggap remeh soal kepedulian masyarakat Dayak Iban dalam melestarikan hutan. Mereka saat ini mendiami wilayah ketemenggungan 7 kampung ‘Jalai Lintang’ , yaitu Lauk Rugun,Mungguk,Pulan, Apan(Langgan Baru), Ungak, dan Sungai Tebelian.

Keseriusan masyarakat Dayak Iban dalam menjaga hutan pada akhirnya mendapat perhatian pemerintah pusat. Buktinya , Kamis 7 Agustus 2008 putra terbaik Dayak Iban, Bandi Anak Ragai alias Pak Janggut menerima Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari pada masyarakat Kampung Sungai Utik, yang diserahkan langsung oleh Menhut MS. Kaban.

Sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropah menyelenggarakan program kerja bersama di Kampung Sungai Utik, Kec. Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Program kerja ini juga melibatkan peran 3 organisasi pendampingan masyarakat yang membantu dalam mempersiapkan implementasi standar Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) yang mungkin diperankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional.

Direktur Eksekutif LEI, Taufik Alimi mengatakan, sejak bulan Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi Pengelolaan Hutan berbasis Masyarat Lestari (PHBML) oleh PT. Mutu Agung Lestari (PT. MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI. Penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) merupakan sebuah pengakuan bahwa apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Kampung Sungai Utik dalam menjaga kelestarian hutan layak dihargai dalam sebuah pengakuan berupa Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari.

Berlangsung di tempat yang unik, Rumah Panjang Kampung Sungai Utik; Jl. Lintas Utara Putussibau-Badau Km. 77,8, Kec. Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat penyerahan Sertifikat Ekolabel Pengelolaan Hutan Lestari pada Masyarakat Iban berlangsung sukses.

Diunduh dari : http://www.suaratokoh.com/taufik-alimi-sertifikasi-penghargaan-bagi-penjaga-hutan

Hutan Adat Pertama Penerima Sertifikat Ekolabel

Hutan Adat Pertama Penerima Sertifikat Ekolabel 150 150 lei

(Putussibau, 8 Agustus 2008) – Kearifan tradisional yang selama ini dilakukan sebuah komunitas adat di Suku Dayak Iban di pedalaman Kampung Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), sehingga hutan adatnya masih terjaga dan lestari membuahkan sebuah penghargaan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI).

“Suku Dayak Iban masih memegang teguh aturan adatnya, dan menolak tawaran investor untuk mengeksploitasi hutan adatnya, sehingga hutan mereka hingga kini masih terawat baik, inilah kearifan tradisional yang kian langka, dan setelah melalui serangkaian penilaian sertifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML), kita berikan sertifikat ekolabel pertama di Indonesia untuk hutan adat,” kata Direktur Eksekutif LEI Ir Taufiq Alimi di Putussibau, Kalbar, Rabu (6/8).

Proses pemberian sertifikat ekolabel itu dijadwalkan akan diberikan Kamis ini . Dijelaskan, pada tahun 2004-2006 LEI, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropa menyelenggarakan program kerja sama bersama di Kampung Sungai Utik. Program kerja itu juga melibatkan peran tiga organisasi pendampingan masyarakat Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kerakyatan (PPSDAK), dan Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan (PPSHK).

Pada Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi PHBML oleh PT Mutuagung Lestari (MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI, di mana penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) yang dilakukan telah menyatakan bahwa masyarakat Kampung Sungai Utik berhasil memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari. (ant/slg)

Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun

Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun 150 150 lei

(Sinar Harapan, 08 Agustus 2008): Hutan Adat Sungai Utik Dipertahankan Puluhan Tahun Putussibau–Dalam pengamatan perjalanan yang dilakukan SH mulai Selasa (5/8) hingga Kamis, terlihat kondisi hutan adat Utik memang terhitung asli. Beberapa kayu bernilai tinggi seperti ramin dan jelutung masih tumbuh dengan subur dan besar. Sungai Utik yang mengalir tak jauh dari rumah adat terlihat jernih, hingga terasa tak segan untuk mandi di dalamnya.

Bandi, Ketua Adat Masyarakat Iban dari Sungai Utik, yang kerap dipanggil Pak Janggut, menyatakan setidaknya kondisi hutan adat mereka tetap dipertahankan asli semenjak perpindahan pertama mereka ke daerah tersebut tahun 1972 lalu. “Hutan adalah sumur dunia. Dari hutan ada banyak air keluar, tanah juga terjaga. Tanpa tanah kita bukan apa-apa,” ujar Pak Janggut menjelaskan dasar pemikiran mereka dalam mempertahankan hutan.

Karena dianggap sudah 38 tahun menjaga kelestarian hutan dengan mempertahankan budaya adat turun-temurun, Suku Dayak Iban yang berdiam di pinggir Sungai Utik, Kalimantan Barat, menerima sertifikasi ekolabel. “Suku Adat Sungai Utik mampu menunjukkan kelestarian hutan juga bisa tercapai bila dikelola secara adat,” kata Taufik Alimi, Direktur Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), pada saat penyerahan sertifikasi di rumah panjang suku Iban Utik, Kamis (7/8). Parameter pencapaian sertifikasi tersebut, menurut Taufik, terdiri dari tiga bagian besar penilaian yaitu sisi ekologi, sosial dan ekonomi. “Setidaknya sembilan ribu hektare lahan yang dikelolah secara turun-temurun oleh orang adat Utik mampu dipertahankan hingga sekarang,” kata Taufik.

Dengan adanya sertifikasi tersebut, menurut Pak Janggut, akan makin menguatkan bahwa jalan yang mereka pilih dalam mempertahankan hutan adat bukan arah yang salah mengingat kebanyakan hutan di sekeliling tanah adat mereka, sekarang telah mulai kritis terjamah industri penebangan kayu. Tercatat ada tiga perusahaan penebangan kayu kini mengepung kawasan adat mereka. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Benua Indah, PT Bumi Raya Utami WI, dan PT Landjak Deras Jaya Raya yang diklaim diinvestasi oleh investor dari Malaysia dan mengirimkan kayu-kayunya ke Malaysia.

Sementara itu, Menteri Kehutanan RI MS Kaban yang juga hadir dalam penyerahan sertifikasi tersebut menyatakan kalau apa yang dilakukan kaum adat Utik ini menunjukan dengan cara adat, kelestarian hutan juga bisa tercapai. “Peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran bagi kaum adat yang lain. Bahwa dengan cara adat hutan tetap bisa lestari dan diakui sistem pengelolaannya oleh dunia modern,” kata Kaban. Wakil Bupati Kapuas Hulu Drs Alexander MSc turut bergembira juga dengan diberikannya sertifikasi tersebut. Dalam sambutannya, Alexander berharap agar dalam pengambilan keputusan pemberian anggaran daerah, turut pula diperhatikan masalah kemampuan melestarikan hutan seperti kasus orang adat Utik ini. Jadi tidak hanya berdasar pada luas wilayah serta jumlah penduduk, seperti yang dilakukan sekarang. (sulung prasetyo) Diunduh dari : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/08/kesra02.html

Hutan Sungai Utik Layak Dapat Insentif Dunia

Hutan Sungai Utik Layak Dapat Insentif Dunia 150 150 lei

(Putussibau, 07 Agustus 2008): Sertifikat ekolabel yang diberikan kepada komunitas adat Suku Dayak Iban di pedalaman Kampung Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), adalah sebuah catatan sejarah penting bagi upaya pelestarian hutan di Indonesia, sehingga masyarakat dunia perlu mengapresiasinya. “Ini harus dijadikan catatan, bagaimana menjadikan sertifikat ekolabel ini sebagai satu garansi kepada dunia luar bahwa masyarakat (Sungai Utik) ini layak untuk mendapatkan insentif dari masyarakat dunia agar kelestarian hutan dapat dikelola oleh masyarakat adat,” kata Menteri Kehutanan, MS Kaban di Sungai Utik, Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar, Kamis.

Wartawan ANTARA melaporkan, pernyataan itu disampaikan Menhut usai menyerahkan sertifikat ekolabel dari LEI kepada Bandi “Pak Janggut” Anak Ragai (83), seorang “Tetuai Rumah” Panjae (Panjang) –sebutan tokoh adat paling berpengaruh– Suku Dayak Iban Kampung Sungai Utik–yang juga dihadiri Direktur Eksekutif LEI, Taufiq Alimi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, Wakil Bupati Kapuas Hulu, Alexander serta tokoh adat lainnya. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara LEI, AMAN, Multi Stakeholders Forestry Programme (MFP), lembaga penjamin, dan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu.

Kampung Sungai Utik adalah wilayah di bagian Pegunungan Kapuas Hulu, yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia, dan dapat ditempuh dengan jalur darat selama tiga jam dari Putussibau, ibukota kabupaten Kapuas Hulu. Rombongan Menhut, datang ke kampung tersebut dengan menggunakan helikopter. MS Kaban mengemukakan, apresiasi dunia atas upaya menjaga kelestarian hutan oleh masyarakat adat Sungai Utik itu disebutnya “sangat layak” diberikan, karena apa yang dilakukan tersebut bukan perjuanga satu-dua hari, namun merupakan perjuangn panjang sampai puluhan tahun, di tengah-tengah tantangan besar dari negara tetangga, tetapi masyarakat dapat bertahan. “Jadi saya kira amatlah wajar dan layak kalau ini dapat kita berikan satu usaha-usaha yang menimbulkan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Sunga Utik ini. Jadi usaha ini harus di-‘follow up’ untuk bagaimana kehutanan bisa sebagai sumber kemakmuran bagi masyarakat Sungai Utik ini, dan itu semua harus kita persiapkan bersama,” katanya.

Dengan keterlibatan LSM, asosiasi masyarakat adat (AMAN-red) dan kemudian LEI, kata dia, ia berharap agar sertifikat ekolabel yang telah diberikan tersebut menjadi langkah awal untuk pengembangan selanjutnya. “Ini sekaligus menjadi contoh bagaimana masyarakat adat se Indonesia dalam mengelola hutannya,” katanya. Menurut dia, setelah pemberian sertifikat ekolabel tersebut, harus ada tindaklanjut apa yang bisa dilakukan, sebab kalau hanya diberikan sertifikat saja, namun tidak ada implikasi pada kehidupan masyarakat, nanti akan menimbulkan suasana psikologis yang tidak kondusif. “Kita mesti berusaha apa yang dapat kita tawarkan nantinya, apakah sebagai jasa lingkungan, sebagai bursa karbon (carbon trade), yang kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat Sungai Utik, saya kira ini harus menjadi perhatian utama,” katanya.

Salah Kelola Pada bagian lain, ia kembali menegaskan bahwa sektor kehutanan harus menjadi sumber kemakmuran bagi masyarakat. “Yang penting kita jangan salah mengelola kawasan-kawasan hutan ini, dan harus menjaga dan memelihara agar jangan samapi ada pihak-pihak yang terus menerus mencoba menggerogoti kekayaan Sungai Utik ini untuk kepentingan orang lain,” katanya. Ia juga berharap agar upaya mulia itu tidak berhenti sampai pada pemberian sertifikat ekolabel, namun dapat dilanjutkan sehingga upaya selama 25 tahun yang telah dilakukan komunitas adat tersebut, di bawah kepemimpinan “Pak Janggut”, ada artinya bagi kehidupan masyarakat, khususnya di “Rumah Panjang” ini dan juga masyarakat secara keseluruhan.

“Dengan begitu, kita bisa katakan kepada masyarakat adat dimana pun, kalau mau mengelola hutan secara baik, lihatlah Sunga Utik, itulah yang akan kita sampaikan kepada seluruh masyarkat dunia,” kata MS Kaban. Sementara itu, Sekjen AMAN, Abdon Nababan mengatakan, perjuangan yang dilakukan itu membutuhkan sebuah perlindungan dan jaminan, serta dukungan dari pemerintah dan negara, terlebih godaan dari negara tetangga Malaysia –dengan cukong-cukongnya–yang terus memberikan iming-iming agar kayu d hutan yang lestari itu dapat dijual. “Selain dukungan dan perlindungan dari pemerintah dan negara, juga dibutuhkan keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kepentingan ekologisnya,” katanya.

Sedangkan Direktur Eksekutif LEI, Taufiq Alimi menyatakan, keteguhan Suku Dayak Iban Sunga Utik, yang tidak tergiur dengan banyaknya iming-iming ekonomi, adalah ikhtiar kultural bagaimana menggempur pembalakan liar (illegal logging), yang telah menampakkah hasilnya. “Suku Dayak Iban masih memegang teguh aturan adatnya, dan menolak tawaran investor untuk mengeksploitasi hutan adatnya, sehingga hutan mereka hingga kini masih terawat baik, inilah kearifan tradisional yang kian langka, sehingga setelah melalui serangkaian penilaian sertifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML), kita berikan sertifikat ekolabel pertama di Indonesia.

Wartawan ANTARA yang mengikuti kegiatan itu, dari Putussibau melaporkan, proses pemberian sertifikat ekolabel itu dijadwalkan akan diberikan Kamis (7/8) disaksikan oleh Menteri Kehutanan (Menhut), MS Kaban, Gubernur Kalbar, Drs Cornelis dan para pemangku kepentingan lainnya, baik dari kalangan LSM dan pemerintah daerah dan lembaga donor.Indonesia untuk hutan adat,” katanya. Kronologis skema ekolabel pada hutan adat di Sungai Utik telah diawali pada tahun 2004-2006, dimana LEI, AMAN, Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropa menyelenggarakan program kerjasama bersama di Kampung Sungai Utik. Program kerja itu juga melibatkan peran tiga organisasi pendampinga masyarakat yang berkantor pusat di Pontianak. Organisasi itu adalah Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kerakyatan (PPSDAK), dan Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan (PPSHK), yang kemudian mempersiapkan implementasi standar Pengelolaan Hutan Lestari (PHL), yang memungkinkan bisa diperankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional.

Kemudian, pada Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi PHBML oleh PT Mutuagung Lestari (MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI, dimana penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) yang dilakukan telah menyatakan bahwa masyarakat Kampung Sungai Utik berhasil memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari. ***2*** (T.A035 (T.A035/B/Z002/Z002) 07-08-2008 22:28:30

Kearifan Tradisional Adat Suku Dayak Iban

Kearifan Tradisional Adat Suku Dayak Iban 150 150 lei

(6 Agustus 2008): Hutan Adat Masih Terjaga Berkat Kearifan Tradisional Adat Suku Dayak Iban. “Suku Dayak Iban masih memegang teguh aturan adatnya, dan menolak tawaran investor untuk mengekploitasi hutan adatnya, sehingga hutan mereka hingga kini masih terawat baik, inilah kearifan tradisional yang kian langka, dan setelah melalui serangkaian penilaian sertifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML), kita berikan sertifikat ekolabel pertama di Indonesia untuk hutan adat,” kata Direktur Eksekutif LEI, Ir Taufiq Alimi di Putussibau, Kalbar, Rabu. Wartawan ANTARA yang mengikuti kegiatan itu, dari Putussibau melaporkan, proses pemberian sertifikat ekolabel itu dijadwalkan akan diberikan Kamis (7/8) disaksikan oleh Menteri Kehutanan (Menhut), MS Kaban, Gubernur Kalbar, Drs Cornelis dan para pemangku kepentingan lainnya, baik dari kalangan LSM dan pemerintah daerah dan lembaga donor.

Ia menjelaskan, pada tahun 2004-2006 LEI, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropa menyelenggarakan program kerjasama bersama di Kampung Sungai Utik. Program kerja itu juga melibatkan peran tiga organisasi pendampinga masyarakat yang berkantor pusat di Pontianak. Organisasi itu adalah Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kerakyatan (PPSDAK), dan Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan (PPSHK), yang kemudian mempersiapkan implementasi standar Pengelolaan Hutan Lestari (PHL), yang memungkinkan bisa diperankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional. Kemudian, pada Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi PHBML oleh PT Mutuagung Lestari (MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI, dimana penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) yang dilakukan telah menyatakan bahwa masyarakat Kampung SUngai Utik berhasil memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari.

Dikemukakannya bahwa semangat utama yang hendak disampaikan kepada publi secara nasional –bahkan internasional–adalah bahwa di tengah maraknya eksploitasi dan konversi hutan menjadi pertambangan dan perkebunan, ternyata masih terdapat kearifan tradisional sebuah komunitas adat yang patut dijadikan teladan dalam merawat hutan. “Penolakan untuk mengambil kayu secara besar-besaran itu didasarkan pada keyakinan bahwa adat telah mengatur bagaimana memanfaatkan kayu di hutan, dan pengambilan kayu dalam jumlah masif, ternyata bertentangan dengan hukum adat Sungai Utik, inilah hal paling mendasar yang kemudian mampu menjaga kelestarian hutan mereka,” katanya. Rumah panjang Menurut Taufiq Alimi, ketaatan pada adat dan norma sosial komunitas Dayak Iban Sungai Utik, yang menempati kawasan hutan seluas 9.452,5 ha di Kabupaten Kapuas Hulu itu, tidak terlepas dari peran “Rumah Panjang” sebagai identitas dan pengikat solidaritas warga. “Rumah Panjang ini besar sekali peranannya dalam mengontrol akses dan kepemilikan lahan, baik antarwarga maupun antardesa,” katanya dan menambahkan saat ini di bawah pimpinan kolektif dari “Tuai Adat”, kepala kampung dan temenggung serta para hulubalangnya, semua masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat ditangani dan diselesaikan di tingkat pertemuan “Rumah Panjang”.

Sementara itu, “Pak Janggut” –yang menjadi “Tuai Adat” Suku Dayak Iban di Sungai Utik–menjelaskan, sebenarnya masyarakat adat, mulai dari nenek moyang hingga kini tertib menjaga hutan, karena hal itu sudah ada aturannya dalam adat mereka–dan hal itu dipahami sejak dari orang tua yang diturunkan kepada anak, kepada cucu dan seterusnya hingga saat ini. “Sayur dan ikan selalu ada dan tersedia, masyarakat memiliki batas-batas daerah sesuai kesepakatan, dan (tutupan) hutan menuju ke taman nasional juga diberi tanda,” kata Pak Janggut. Perbatasan hutan adat Suku Dayak Iban Sungai Utik adalah dengan Taman Nasional Betung Karihun (TNBK), yang berada di perbatasan tiga negara, yakni Indonesia-Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Kondisi ideal ini, kata Taufiq Alimi, tidak dimiliki kampung-kampung lain di sekitar Sungai Utik yang “tidak beruntung” dalam membangun pranata rumah panjang mereka. Kebijakan “rumah sehat” dari pemerintah diberlakukan dan wilayah hutan sudah dikapling menjadi HPH (hak pengusahaan hutan) sehingga membangun rumah panjang menjadi mustahil. Sekalipun beberapa mempunyai rumah panjang, tetapi terlalu kecil untuk menampung semua warga. Akibatnya mereka menjadi komunitas Iban yang tercerai berai dalam satuan rumah keluarga inti.

Dari studi yang dilakukan oleh LEI pada tahun 2005, tawaran investor kayu dari Malaysia, yang sangat memahami masyarakat Iban di Serawak, sulit ditolak kampung-kampung di luar komunitas Dayak Iban Sungai Utik. Para peneliti LEI itu adalah Satria Astana, Wibowo Djatmiko, Semiarto Aji, Luhut Simanjuntak dan Wahyu F Riva. Studi itu mendapati bahwa selain keuntungan dari usaha menebang dan mengolah kayu, kepada mereka juga dijanjikan untuk dibuatkan rumah panjang apabila mau melepas hutan adat untuk diambil kayunya. Dalam konteks persaingan dengan kampung lain, identitas kampung yang diperkuat oleh rumah adat menjadi penting. Karena itulah, orang Dayak Iban Sungai Utik membanggakan keaslian dan ketuaan rumah panjangnya, sementara kampung lain yang tidak memiliki rumah panjang, juga menyimpan harapan untuk suatu saat memilikinya dalam bentuk yang bisa dibanggakan. Usaha kayu menjadi harapan yang paling masuk akal, apalagi tambahan fasilitas berupa listrik dan jalan beraspal juga dijanjikan oleh investor. Ketika usaha kayu berjaya, kampung-kampung lain dapat memamerkan diri pada orang Sungai Utik bahwa mereka juga sudah mempunyai rumah panjang lengkap dengan listrik dan jalan aspal yang belum dimiliki Sungai Utik. Namun demikian kerusakah lingkungan seperti sungai yang berlumpur adalah harga yang harus ditebus oleh kampung lain itu.

Dalam hal ini, Pak Janggut menyatakan bahwa alam dan sungai adalah nafas manusia, kalau tidak dilindungi akan berisiko terhadap masyarakat. “Air adalah darah, tanah adalah asal dan tempat kembali manusia,” katanya. Namun demikian Pak Janggut tetap khawatir mengenai perambahan hutan untuk perkebunan dan hutan tanaman. Hal ini disebabkan letak Kampung Suku Dayak Iban Sungai Utik yang berada di lintasan strategis dekat dengan perbatasan Serawak, Malaysia. Kampung Sungai berdekatan dengan dua kampung lainnya, yaitu Kampung Mungguk dan Kampung Lauk Rugun. Kecamatan Embaloh Hulu berbatasan dengan Serawak di bagian Utara dan Barat, Kecamatan Putussibau di bagian timur, dan Kecamatan Batang Lupar di bagian selatan. Sedangkan Kabupaten Kapuas Hulu berbatasan dengan Serawak (Malaysia) di bagian Utara, Provinsi Kalimantan Timur di bagian Timur, Kabupaten Sintang di bagian Selatan dan Barat.

Selain itu kawasan hutan Sungai Utik kaya akan beragam jenis kayu. Jenis-jenis meranti dan kapur merupakan jenis dominan. Jenis kayu lainnya antara lain ladan, gerunggang (bahan pembuat sirap atap), kempas, dan jelutung. Suku Dayak memanfaatkannya untuk bahan bangunan, bahan pembuat sampan, dan kayu bakar, namun jenis-jenis kayu di kawasan hutan Sungai Utik merupakan jenis komersial yang laku dijual. “Masalah yang paling berat adalah menjaga agar hutan tidak hilang akibat perubahan lahan untuk HTI dan perkebunan kelapa sawit,” kata Pak Janggut dalam studi LEI saat ditanyakan permasalahan yang dihadapi oleh komunitas Sungai Utik berkaitan dengan keberlanjutannya. Karena itu upaya-upaya untuk menjaga keberlanjutan komunitas Dayak Iban Sungai Utik terus dilanjutkan dengan proses sertifikasi ekolabel, dan lulus penilaian sertifikasi pengelolaan hutan lestari oleh PT MAL pada bulan Mei 2008.

“Masyarakat ingin pengakuan yang tertulis supaya didengar oleh orang luar, ada dokumen-dokumennya. Sertifikasi merupakan titik penting yang bermanfaat bagi masyarakat. Sertifikasi `Sui Utik` (Sungai Utik) diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Masyarakat harus bisa mengikuti arus perubahan dunia,” katanya. (N42)

Sungai-Utik, Hutan Adat Pertama Penerima Sertifikat Ekolabel

Sungai-Utik, Hutan Adat Pertama Penerima Sertifikat Ekolabel 150 150 lei

(Putussibau, 6 Agustus 2008-Antara): Kearifan tradisional masih terjaga dengan lestari pada sebuah komunitas adat di Suku Dayak Iban di pedalaman Kampung Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Hutan adatnya juga masih terjaga dan lestari sehingga membuahkan hasil sebagai desa adat pertama yang meraih penghargaan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI).

“Suku Dayak Iban masih memegang teguh aturan adatnya, dan menolak tawaran investor untuk mengekploitasi hutan adatnya, sehingga hutan mereka hingga kini masih terawat baik, inilah kearifan tradisional yang kian langka, dan setelah melalui serangkaian penilaian sertifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML), kita berikan sertifikat ekolabel pertama di Indonesia untuk hutan adat,” kata Direktur Eksekutif LEI, Ir Taufiq Alimi di Putussibau, Kalbar, Rabu (6/8).

Proses pemberian sertifikat ekolabel itu dijadwalkan akan diberikan Kamis (7/8) disaksikan oleh Menteri Kehutanan (Menhut), MS Kaban, Gubernur Kalbar, Drs Cornelis dan para pemangku kepentingan lainnya, baik dari kalangan LSM dan pemerintah daerah dan lembaga donor. Pada tahun 2004-2006 LEI, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Uni Eropa menyelenggarakan program kerjasama bersama di Kampung Sungai Utik. Program kerja itu juga melibatkan peran tiga organisasi pendampinga masyarakat yang berkantor pusat di Pontianak. Organisasi itu adalah Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kerakyatan (PPSDAK), dan Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan (PPSHK), yang kemudian mempersiapkan implementasi standar Pengelolaan Hutan Lestari (PHL), yang memungkinkan bisa diperankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional.

Kemudian, pada Maret 2008 telah dilakukan serangkaian penilaian sertifikasi PHBML oleh PT Mutuagung Lestari (MAL) sebagai badan penyelenggara sertifikasi mutu di bawah akreditasi LEI, dimana penilaian sertifikasi hutan (ekolabel) yang dilakukan telah menyatakan bahwa masyarakat Kampung Sungai Utik berhasil memperoleh sertifikat pengelolaan hutan lestari. Semangat utama yang hendak disampaikan dalam pemberian ekolabel ini memberitahu publik baik nasional maupun internasional bahwa di tengah maraknya eksploitasi dan konversi hutan menjadi pertambangan dan perkebunan, ternyata masih terdapat kearifan tradisional sebuah komunitas adat yang patut dijadikan teladan dalam merawat hutan. Rumah panjang Ketaatan pada adat dan norma sosial komunitas Dayak Iban Sungai Utik, yang menempati kawasan hutan seluas 9.452,5 ha di Kabupaten Kapuas Hulu itu, tidak terlepas dari peran “Rumah Panjang” sebagai identitas dan pengikat solidaritas warga. Rumah Panjang ini besar sekali peranannya dalam mengontrol akses dan kepemilikan lahan, baik antarwarga maupun antardesa. Saat ini di bawah pimpinan kolektif dari “Tuai Adat”, kepala kampung dan temenggung serta para hulubalangnya, semua masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat ditangani dan diselesaikan di tingkat pertemuan “Rumah Panjang”.

Sementara itu, “Pak Janggut” –yang menjadi “Tuai Adat” Suku Dayak Iban di Sungai Utik–menjelaskan, sebenarnya masyarakat adat, mulai dari nenek moyang hingga kini tertib menjaga hutan, karena hal itu sudah ada aturannya dalam adat mereka–dan hal itu dipahami sejak dari orang tua yang diturunkan kepada anak, kepada cucu dan seterusnya hingga saat ini. “Sayur dan ikan selalu ada dan tersedia, masyarakat memiliki batas-batas daerah sesuai kesepakatan, dan (tutupan) hutan menuju ke taman nasional juga diberi tanda,” kata Pak Janggut.

Perbatasan hutan adat Suku Dayak Iban Sungai Utik adalah dengan Taman Nasional Betung Karihun (TNBK), yang berada di perbatasan tiga negara, yakni Indonesia-Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kondisi ideal ini, tidak dimiliki kampung-kampung lain di sekitar Sungai Utik yang “tidak beruntung” dalam membangun pranata rumah panjang mereka. Kebijakan “rumah sehat” dari pemerintah diberlakukan dan wilayah hutan sudah dikapling menjadi HPH (hak pengusahaan hutan) sehingga membangun rumah panjang menjadi mustahil. Sekalipun beberapa mempunyai rumah panjang, tetapi terlalu kecil untuk menampung semua warga. Akibatnya mereka menjadi komunitas Iban yang tercerai berai dalam satuan rumah keluarga inti.

Dari studi yang dilakukan oleh LEI pada tahun 2005, tawaran investor kayu dari Malaysia, yang sangat memahami masyarakat Iban di Serawak, sulit ditolak kampung-kampung di luar komunitas Dayak Iban Sungai Utik. Para peneliti LEI itu adalah Satria Astana, Wibowo Djatmiko, Semiarto Aji, Luhut Simanjuntak dan Wahyu F Riva. Studi itu mendapati bahwa selain keuntungan dari usaha menebang dan mengolah kayu, kepada mereka juga dijanjikan untuk dibuatkan rumah panjang apabila mau melepas hutan adat untuk diambil kayunya. Dalam konteks persaingan dengan kampung lain, identitas kampung yang diperkuat oleh rumah adat menjadi penting. Karena itulah, orang Dayak Iban Sungai Utik membanggakan keaslian dan ketuaan rumah panjangnya, sementara kampung lain yang tidak memiliki rumah panjang, juga menyimpan harapan untuk suatu saat memilikinya dalam bentuk yang bisa dibanggakan.

Usaha kayu menjadi harapan yang paling masuk akal, apalagi tambahan fasilitas berupa listrik dan jalan beraspal juga dijanjikan oleh investor. Ketika usaha kayu berjaya, kampung-kampung lain dapat memamerkan diri pada orang Sungai Utik bahwa mereka juga sudah mempunyai rumah panjang lengkap dengan listrik dan jalan aspal yang belum dimiliki Sungai Utik. Namun demikian kerusakah lingkungan seperti sungai yang berlumpur adalah harga yang harus ditebus oleh kampung lain itu. Dalam hal ini, Pak Janggut menyatakan bahwa alam dan sungai adalah nafas manusia, kalau tidak dilindungi akan berisiko terhadap masyarakat. “Air adalah darah, tanah adalah asal dan tempat kembali manusia,” katanya. Namun demikian Pak Janggut tetap khawatir mengenai perambahan hutan untuk perkebunan dan hutan tanaman. Hal ini disebabkan letak Kampung Suku Dayak Iban Sungai Utik yang berada di lintasan strategis dekat dengan perbatasan Serawak, Malaysia.

Kampung Sungai berdekatan dengan dua kampung lainnya, yaitu Kampung Mungguk dan Kampung Lauk Rugun. Kecamatan Embaloh Hulu berbatasan dengan Serawak di bagian Utara dan Barat, Kecamatan Putussibau di bagian timur, dan Kecamatan Batang Lupar di bagian selatan. Sedangkan Kabupaten Kapuas Hulu berbatasan dengan Serawak (Malaysia) di bagian Utara, Provinsi Kalimantan Timur di bagian Timur, Kabupaten Sintang di bagian Selatan dan Barat. Selain itu kawasan hutan Sungai Utik kaya akan beragam jenis kayu. Jenis-jenis meranti dan kapur merupakan jenis dominan. Jenis kayu lainnya antara lain ladan, gerunggang (bahan pembuat sirap atap), kempas, dan jelutung.

Suku Dayak memanfaatkannya untuk bahan bangunan, bahan pembuat sampan, dan kayu bakar, namun jenis-jenis kayu di kawasan hutan Sungai Utik merupakan jenis komersial yang laku dijual. “Masalah yang paling berat adalah menjaga agar hutan tidak hilang akibat perubahan lahan untuk HTI dan perkebunan kelapa sawit,” kata Pak Janggut dalam studi LEI saat ditanyakan permasalahan yang dihadapi oleh komunitas Sungai Utik berkaitan dengan keberlanjutannya. Karena itu upaya-upaya untuk menjaga keberlanjutan komunitas Dayak Iban Sungai Utik terus dilanjutkan dengan proses sertifikasi ekolabel, dan lulus penilaian sertifikasi pengelolaan hutan lestari oleh PT MAL pada bulan Mei 2008. “Masyarakat ingin pengakuan yang tertulis supaya didengar oleh orang luar, ada dokumen-dokumennya. Sertifikasi merupakan titik penting yang bermanfaat bagi masyarakat. Sertifikasi Sui Utik (Sungai Utik) diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Masyarakat harus bisa mengikuti arus perubahan dunia,” katanya. WAH Sumber : Antara

Sungai Utik, Pelindung Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Barat

Sungai Utik, Pelindung Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Barat 150 150 lei

(Bogor, 15 Juli 2008):  Suku Dayak Iban Kampung Sungai Utik, Benteng Pelindung Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Barat Kearifan Tradisional Suku Dayak Membentengi Hutan dari Perambahan dan Penebangan Liar.

Menjadi menarik, di tengah maraknya eksploitasi dan konversi hutan menjadi pertambangan dan perkebunan ketika ada sebuah komunitas adat, Suku Dayak Iban Sungai Utik, yang masih memegang teguh aturan adatnya dan menolak tawaran investor untuk mengeksploitasi hutan adatnya. Hingga kini hutan mereka masih terawat baik. Penolakan untuk mengambil kayu secara besar-besaran ini didasarkan pada keyakinan bahwa adat telah mengatur bagaimana memanfaatkan kayu di hutan. Pengambilan kayu dalam jumlah masif bertentang dengan hukum adat di Sungai Utik. Ketaatan pada adat dan norma sosial komunitas Dayak Iban Sungai Utik yang menempati kawasan hutan seluas 9.452,5 ha di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini tidak terlepas dari peran Rumah Panjang sebagai identitas dan pengikat solidaritas warga.

Rumah Panjang besar sekali peranannya dalam mengontrol akses dan kepemilikan lahan baik antar warga, maupun antar desa. Saat ini, dibawah pimpinan kolektif dari Tuai Adat, Kepala Kampung dan Temenggung serta dibantu para hulubalangnya, semua masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat ditangani dan diselesaikan di tingkat pertemuan Rumah Panjang. “Sebenarnya masyarakat adat mulai dari nenek moyang tertib menjaga hutan, sudah ada aturannya dalam adat. Masyarakat mengharapkan hutan utuh dan normal tempat mengambil kebutuhan sehari-hari. Sayur dan ikan selalu ada dan tersedia. Masyarakat memiliki batas-batas daerah sesuai kesepakatan. Tutupan (hutan) menuju ke Taman Nasional juga diberi tanda ,” demikian penjelasan Pak Janggut tentang penggunaan aturan adat Suku Dayak Iban. Pak Janggut sehari-harinya adalah Tuai Adat Suku Dayak Iban di Sungai Utik.

Kondisi ideal ini tidak dimiliki kampung-kampung lain di sekitar Sungai Utik yang ‘tidak beruntung’ dalam membangun pranata Rumah Panjang mereka. Kebijakan “rumah sehat” dari pemerintah diberlakukan dan wilayah hutan sudah dikapling menjadi HPH sehingga membangun rumah panjang menjadi mustahil. Sekalipun beberapa mempunyai rumah panjang tetapi terlalu kecil untuk menampung semua warga. Akibatnya mereka menjadi komunitas Iban yang tercerai berai dalam satuan rumah keluarga inti. Dari studi yang dilakukan oleh Lembaga Ekolabel pada tahun 2005, tawaran investor kayu dari Malaysia, yang sangat memahami masyarakat Iban di Serawak, sulit ditolak kampung-kampung di luar komunitas Dayak Iban Sungai Utik. Selain keuntungan dari usaha menebang dan mengolah kayu, kepada mereka juga dijanjikan untuk dibuatkan rumah panjang apabila mau melepas hutan adat untuk diambil kayunya.

Dalam konteks persaingan dengan kampung lain, identitas kampung yang diperkuat oleh rumah adat menjadi penting. Karena itulah, orang Dayak Iban Sungai Utik membanggakan keaslian dan ketuaan rumah panjangnya; sementara kampung lain yang tidak memiliki rumah panjang, juga menyimpan harapan untuk suatu saat memilikinya dalam bentuk yang bisa dibanggakan. Usaha kayu menjadi harapan yang paling masuk akal, apalagi tambahan fasilitas berupa listrik dan jalan beraspal juga dijanjikan oleh investor. Ketika usaha kayu berjaya, kampung-kampung lain dapat memamerkan diri pada orang Sungai Utik bahwa mereka juga sudah mempunyai rumah panjang lengkap dengan listrik dan jalan aspal yang belum dimiliki Sungai Utik. Namun, kerusakan lingkungan seperti sungai yang berlumpur adalah harga yang harus ditebus oleh kampung lain itu. Dalam hal ini Pak Janggut pun berujar, ”Alam dan sungai adalah nafas manusia, kalau tidak dilindungi akan beresiko terhadap masyarakat. Air adalah darah, tanah adalah asal dan tempat kembali manusia.” Pak Janggut mengkhawatirkan soal perambahan hutan untuk perkebunan dan hutan tanaman yang kini marak. Hal ini disebabkan letak Kampung Suku Dayak Iban Sungai Utik yang berada di lintasan strategis dekat dengan perbatasan Serawak, Malaysia.

Kampung Sungai Utik terletak di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat, bersama-sama dengan 2 kampung lainnya, yaitu Kampung Mungguk dan Kampung Lauk Rugun. Kecamatan Embaloh Hulu berbatasan dengan Serawak di bagian Utara dan Barat, Kecamatan Putussibau di bagian timur, dan Kecamatan Batang Lupar di bagian selatan. Sedangkan Kabupaten Kapuas Hulu berbatasan dengan Serawak (Malaysia) di bagian Utara, Provinsi Kalimantan Timur di bagian Timur, Kabupaten Sintang di bagian Selatan dan Barat. Selain itu kawasan hutan Sungai Utik kaya akan beragam jenis pepohonan dan satwaliar. Bermacam jenis meranti, kapur, ladan, gerunggang (bahan pembuat sirap atap), kempas, jelutung, dan beragam jenis rotan dan damar.

Suku Dayak memanfaatkannya untuk bahan bangunan, bahan pembuat sampan, tikar, dan kayu bakar. Jenis-jenis kayu di kawasan hutan Sungai Utik merupakan jenis komersial yang laku dijual. Kawasan hutan di Sungai Utik masih banyak dihuni oleh jenis-jenis rusa, kijang, babi hutan, kura-kura, labi-labi, macan dahan, beruang, dan ular, termasuk beragam jenis burung dan ikan. “Masalah yang paling berat adalah menjaga agar hutan tidak hilang akibat perubahan lahan untuk HTI dan perkebunan kelapa sawit”, demikian tutur Pak Janggut ketika LEI menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh komunitas Sungai Utik berkaitan dengan keberlanjutannya. Karena itu upaya-upaya untuk menjaga keberlanjutan komunitas Dayak Iban Sungai Utik terus dilanjutkan dengan proses sertifikasi ekolabel LEI, dan lulus penilaian sertifikasi pengelolaan hutan lestari oleh PT. Mutuagung Lestari pada bulan Mei 2008.

“Masyarakat ingin pengakuan yang tertulis supaya didengar oleh orang luar, ada dokumen-dokumennya. Sertifikasi merupakan titik penting yang bermanfaat bagi masyarakat. Sertifikasi Sui Utik diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Masyarakat harus bisa mengikuti arus perubahan dunia. Budaya bisa dipakai secara adil.” Bagi komunitas Dayak Iban Sungai Utik, sertifikasi digunakan untuk menyelamatkan hutan, alam dan jiwa. Ibarat mantri (dokter), sertifikasi dapat menjadi obat.

Setelah mendapatkan sertifikasi komunitas Dayak Iban Sungai Utik tidak lantas mengeksploitasi hutannya untuk menambah tingkat perekonomiannya. Mereka bersepakat menggunakan perencanaan pemanenan. “Ada kesepakatan untuk memperbolehkan menebang tapi ada perencanaan, berapa yang boleh diambil, kayu seperti apa yang boleh diambil. Kami juga mengumpulkan masyarakat, agar tidak bekerja mengambil kayu sebagai pencaharian utama, tetapi mengusahakan kebun karet, coklat, dan tebu,” jelas Pak Janggut.

Terpeliharanya kearifan tradisional berupa hukum adat yang menyertai keberadaan rumah panjang, ditambahi dengan sertifikasi ekolabel LEI yang mereka peroleh melalui proses pendampingan bertahun-tahun oleh para pendamping, memancangkan sebuah kepastian dari orang Sungai Utik : mereka tidak akan tergoda oleh investor yang menawar hutan mereka.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Indra S. Dewi, Lembaga Ekolabel Indonesia, lei@indo.net.id, ph: +62-251-340744 dan 08128161339.

Tentang Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) LEI adalah organisasi berbasiskan konstituen yang mempunyai misi untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Sistem Sertifikasi LEI ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Saat ini lebih dari 1 juta ha hutan di Indonesia telah mendapatkan sertifikat hutan lestari dari LEI.