Mitigasi

LEI Kembangkan Sertifikasi Karbon

LEI Kembangkan Sertifikasi Karbon 150 150 lei

GreenRadioFM-130809: Lembaga Ekolabel Indonesia, LEI sedang mempersiapkan diri untuk mengembangkan sistem sertifikasi karbon di Indonesia bekerjasama dengan Departemen Kehutanan.

Direktur Eksekutif LEI, Agung Prasetyo mengatakan, para pemilik hak kelola hutan, baik hutan alam maupun hutan rakyat, merupakan pemelihara bahan baku yang dapat dikelola untuk mitigasi dampak perubahan iklim dalam bentuk pengelolaan hutan yang adil dan lestari.
“Adil bagi pihak pengusaha yang memerlukan kompensasi lingkungan, adil bagi para pelestari hutan, dan adil bagi komunitas masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan,” ujar Agung.

Para pemilik hak kelola hutan dapat menyatakan bahwa hutannya memiliki kemampuan berperan dalam mitigasi dampak perubahan iklim apabila sudah memiliki sertifikat ekolabel.
Para pemegang sertifikat ekolabel LEI diawasi dan dinilai kinerja dan komitmen mereka dalam pengelolaan hutan lestari. Pengelolaan hutan yang baik disertai dengan penanaman mampu menyerap karbon yang pada akhirnya dapat mengurangi konsentrasi karbon di udara yang menyebabkan pemanasan global.

Menurut studi FAO tahun 2006, penanaman pohon dapat menyerap karbon dalam jumlah yang besar dari udara dalam waktu yang relatif lebih pendek. Hutan dapat menyimpan sekitar 15 ton karbon/ha/tahun dalam bentuk biomassa dan kayu.

Hutan Rakyat Harus Disertifikasi

Hutan Rakyat Harus Disertifikasi 150 150 lei

(Radar Bogor-120809) ABDULAH BIN MUH NUH – Pengembangan manfaat hutan dalam mitigasi perubahan iklim tidak dapat dilepaskan dari kelestarian fungsi hutan. Karena itu, hutan perlu dijaga dan dilestarikan. Sebab, hanya hutan kondisi baik yang dapat berperan dalam mitigasi perubahan iklim.

Pengelolaan hutan disertai penanaman pohon mampu menyerap karbon di udara, sehingga mengurangi pemanasan global (global warming). Penanaman pohon diyakini mampu menyerap karbon dalam jumlah besar dalam waktu relatif pendek.

Menyikapi hal tersebut, Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) sebagai lembaga non-profit mendorong mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian hutan. “LEI mendorong keberlanjutan sumberdaya alam, khsuusnya hutan,” ujar Direktur Eksekutif LEI F Agung Prasetyo.

Selain itu, LEI juga berupaya meningkatkan mitigasi perubahan iklim dan optimalisasi jasa lingkungan yang adil. “Adil bagi pihak pengusaha yang melakukan konfesiasi lingkungan, adil bagi pelestari hutan dan adil bagi komunitas masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan,” tambah Agung.

Agung menjelaskan, LEI sedang mempersiapkan diri mengembangkan sistem sertifikasi karbon di Indonesia. LEI akan bekerjasama dengan Badan Planologi Departemen Kehutanan (Dephut) dan KPWN. Menurut Agung, hutan alam dan hutan rakyat harus disertifikasi.

Para pemilik hak kelola hutan, sambung Agung dapat menyatakan hutannya berperan dalam mitigasi perubahan iklim apabila sudah memiliki sertifikat ekolabel.
“Pemegang sertifikat ekalobel diawasi dan dinilai kinerja dan komitmen mereka dalam pengelolaan hutan lestari,” imbuhnya. Lebih jauh Agung menjelaskan, LEI terus berupaya mempromosikan multiplier effects dari pengelolaan hutan yang adil dan lestari.
Di antaranya, jasa lingkungan, perlindungan daerah aliran sungai, berjalannya mekanisme penyerapan karbon untuk mitigasi perubahan iklim, terjaminnya carbon stoc dan fungsi rekreasi alam dan keanekaragaman hayati dari hutan.

“LEI konsisten dalam mewujudkan misi untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia,” hari ini. (rid)

Sertifikasi Ekolabel Mendorong Mitigasi Dampak Perubahan Iklim

Sertifikasi Ekolabel Mendorong Mitigasi Dampak Perubahan Iklim 150 150 lei

BOGOR, 10 Agustus 2009- Pelestarian hutan dan perlindungan kekayaan alam penting dalam mitigasi dampak perubahan iklim. Dalam pertemuan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali 2007 yang lalu terungkap bahwa tingginya tingkat deforestasi telah menurunkan kemampuan hutan dalam mitigasi dampak negatif perubahan iklim. Bahkan menurut Greenpeace (2009) dalam kampanyenya, deforestasi global bertanggung jawab atas sekitar 20% emisi gas rumah kaca. Mitigasi merupakan campur tangan manusia untuk mengurangi sumber gas rumah kaca (GRK).

Pengelolaan hutan yang lestari mampu menjamin hasil hutan yang terus menerus , menyerap karbon untuk mitigasi dampak perubahan iklim dan membawa manfaat ekonomi, sosial dan jasa lingkungan lainnya, sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati. “Hutan yang mampu berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah hutan yang kondisinya masih baik, dan memiliki jaminan dalam jangka waktu yang lama tidak mengalami perubahan lingkungan dan perubahan peruntukkan yang berdampak besar,” Haryanto R. Putro, Peneliti Senior Kehutanan IPB menuturkan.

Pengelolaan hutan yang baik disertai dengan penanaman mampu menyerap karbon yang pada akhirnya dapat mengurangi konsentrasi karbon di udara yang menyebabkan pemanasan global. Menurut studi FAO tahun 2006, penanaman pohon dapat menyerap karbon dalam jumlah yang besar dari udara dalam waktu yang relatif lebih pendek. Hutan dapat menyimpan sekitar 15 ton karbon/ha/tahun dalam bentuk biomassa dan kayu (FAO, 2006).

“Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) sebagai lembaga non-profit yang selama ini terdepan dalam mengembangkan standar sertifikasi hutan di Indonesia mengambil inisiatif mendorong pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, khususnya hutan, untuk berkontribusi pada upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan optimalisasi jasa lingkungan yang adil. Adil bagi bagi pihak pengusaha yang memerlukan kompensasi lingkungan, adil bagi para pelestari hutan, dan adil bagi komunitas masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan,” ujar Agung Prasetyo, Direktur Eksekutif LEI, menjelaskan.

LEI sedang mempersiapkan diri untuk mengembangkan sistem sertifikasi karbon di Indonesia bekerjasama dengan Departemen Kehutanan. Menurut Agung Prasetyo, para pemilik hak kelola hutan, baik hutan alam maupun hutan rakyat, merupakan pemelihara bahan baku karbon (offset karbon) yang dapat dikelola untuk mitigasi dampak perubahan iklim dalam bentuk pengelolaan hutan yang adil dan lestari. Para pemilik hak kelola hutan dapat menyatakan bahwa hutannya memiliki kemampuan berperan dalam mitigasi dampak perubahan iklim apabila sudah memiliki sertifikat ekolabel. Para pemegang sertifikat ekolabel LEI diawasi dan dinilai kinerja dan komitmen mereka dalam pengelolaan hutan lestari. Diperkirakan pasar offset karbon berkisar antara $4 – $10 per ton CO2 yang tersimpan.

Dalam konteks keanekaragaman hayati, Taufiq Alimi Direktur Komunikasi dan Sumberdaya Kehati mengungkapkan,” Kualitas keanekaragaman hayati merupakan indikator kualitas ekosistem dan perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim global mempunyai potensi menurunkan kualitas ekosistem yang akan menurunkan kualitas keanekaragaman hayati. Perubahan iklim mempunyai potensi ancaman yang besar terhadap keanekaragaman hayati karena perubahan iklim mengancam kehidupan banyak species.”

Menanggapi itu Agung Prasetyo, Direktur Eksekutif LEI menegaskan,”LEI terus berupaya mempromosikan multiplier effects dari pengelolaan hutan yang adil dan lestari, antara lain jasa lingkungan, perlindungan Daerah Aliran Sungai, berjalannya mekanisme penyerapan karbon (carbon sequestration) untuk mitigasi dampak perubahan iklim, terjaminnya carbon stock, dan fungsi rekreasi alam dan keanekaragaman hayati dari hutan.

Tentang Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI)
LEI adalah organisasi non-profit berbasiskan konstituen yang mempunyai misi untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Sistem Sertifikasi LEI digunakan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari di Indonesia. Saat ini lebih dari 1,5 juta ha hutan di Indonesia telah mendapatkan sertifikat hutan lestari dari LEI.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Indra S. Dewi, Lembaga Ekolabel Indonesia,
lei@lei.or.id,
ph: +62-251-8340744 dan 08128161339.