Seminar

Penyerapan Emisi Karbon, Indonesia Sumbang Negara Industri Maju

Penyerapan Emisi Karbon, Indonesia Sumbang Negara Industri Maju 150 150 lei

Jakarta, 17/04 (Suara Karya Online): Indonesia dinilai hanya memberikan sumbangan besar dengan menyerap emisi karbon negara-negara industri.
Selama ini, asap dari cerobong inudustri dari negara-negara maju diserap oleh hutan tropis yang dimiliki Indonesia. Menurut Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban, ketentuan mengenai insentif untuk penyerapan karbon belum ada.
“Negara industri melepas CO2 yang diserap hutan di Indonesia dan negara berkembang lain. Namun insentifnya belum ada, sehingga kita bersedekah besar pada mereka,” kata Kaban di Jakarta, kemarin saat menjadi pembicara kunci seminar sehari bertema “Menggalang Inisiatif Perdagangan Karbon Sukarela” yang diadakan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN) Dephut.
Menurut dia, negara industri yang banyak melepas emisi CO2 seringkali hanya mempermasalahkan deforestasi. Namun sebaliknya upaya negara berkembang yang menjaga kelestarian hutannya belum dihargai sebagaimana semestinya. “Harusnya aktivis lingkungan kita bisa membantu menyuarakan belum seimbangnya kompensasi atas emisi karbon itu,” katanya.
Oleh karena itu, semua pemangku kepentingan lingkungan, termasuk kehutanan dan aktivis lingkungan di Indonesia, perlu mendesak negara industri mengenai insentif dari penyerapan karbon itu. “Jadi harus seimbang. Negara industri mengeluarkan emisi, hutan kita menyerap karbonnya, maka mesti ada insentif sebagai kompensasinya,” katanya.
Studi badan PBB urusan pangan dan pertanian (FAO) tahun 2006 mengemukakan bahwa hutan beserta tanah di bawahnya di seluruh dunia menyimpan lebih dari 1 triliun ton karbon. Ini berarti dua kali lipat jumlah karbon di atmosfer. Sedangkan kerusakan hutan menambah hampir 6 miliar ton CO2 ke atmosfer per tahun. Kaban menjelaskan, dalam hitung-hitungan ekonomi, perdagangan karbon jelas menguntungkan. “Sayangnya hingga kini kita belum untung (dari skema perdagangan karbon) itu. Sudah banyak konsep perdagangan karbon yang berkembang, tapi masih minim sosialisasi,” katanya. (Devita)