Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) akan menghadapi persaingan ketat pada masa-masa mendatang terkait bisnis sertifikasi hutan. Banyak pihak yang akan mencoba masuk ke ranah sertifikasi hutan dan menjadi pesaing langsung LEI dalam melakukan sertifikasi kayu. Demikian hasil kajian yang dirilis tim peneliti Fakultas Kehutanan dan Ekologi Kehutanan, Universitas Georg-August Gottingen, Jerman.

Hasil kajian tersebut dipaparkan oleh lima anggota tim peneliti, yang terdiri dari: Agung Wibowo, Muhammad Alif K. Sahide, Santi Pratiwi, Budi Dharmawan, dan Lukas Giessen. Pada Kongres III Lembaga Ekolabel Indonesia di Bogor, kelima peneliti tersebut hadir dan memaparkan makalah dengan tema “Positioning LEI among certification schemes and developing options for its transformation”.

Menujuk hasil penelitian tersebut, setiap skim dalam bisnis sertifikasi hutan di Indonesia akan menghadapi lima jenis kekuatan, yaitu (1) persaingan antar-skim (kompetitor), (2) ancaman dari calon kompetitor, (3) ancaman dari sistem pengganti, (4) daya tawar industri kehutanan, dan (5) daya tawar pembeli.

Skim pesaing (kompetitor). Pertama, FSC. Beberapa penelitian independen menyebutkan bahwa skim sertifikasi FSC memiliki standar tertinggi dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari. Jumlah sertifikat CoC FSC yang mencapai hampir tiga kali lipat sertifikat PEFC menunjukkan bahwa industri hilir lebih menyukai FSC ketimbang PEFC . Hal ini relevan dengan fakta bahwa motif kalangan industri terlibat dalam sertifikasi adalah untuk memenuhi permintaan partner bisnis dan pasar.

Kedua, PEFC. Berkebalikan dengan industri pengolahan kayu yang menyukai sertikat FSC, industri logging lebih memilih PEFC ketimbang FSC dimana market share masing-masing seluas 255 dan 182 juta hektar per September 2014. Kenyataan ini memperkuat pernyataan bahwa skim PEFC memang dirancang ramah bagi pemilik lahan hutan.

Ketiga, SVLK. Sifat mandatory skim SVLK bagi industri logging dan industri hilir perkayuan membuatnya memiliki pasar yang jelas dan pasti. Para pengusaha yang berorientasi pasar lokal dan non-Eropa tidak mendapatkan manfaat ekonomi yang signifikan dari SVLK. Sebalikya, industri dengan tujuan Eropa akan mendapat manfaat ganda, yaitu akses pasar dan image produk legal. Manfaat ini dikonfirmasi dengan naiknya nilai ekspor furniture kayu ke Eropa menjadi USD 11 juta di paruh pertama 2014 dibandingkan USD5.4 juta di periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dibanding tiga kompetitornya yang sudah well-established secara keorganisasian, LEI masih mencari format organisasi ideal untuk meneruskan eksistensinya dalam bisnis sertifikasi. Sejak kemunculannya di tahun 1998, kinerja sertifikasi LEI bisa dianggap stagnan, yaitu hanya mensertifikasi 2 IUPHHK-HA (411,690 ha), 14 HTI (1,429,055 ha), 22 HKM (32,683 ha), dan 6 CoC per Juli 2013. Skim LEI dapat dikatakan sebagai pelengkap skim lainnya atau batu loncatan untuk memperoleh skim lainnya. Kelemahan skim LEI disebabkan tidak solidnya organisasi LEI, lemahnya akseptabilitas produk tersertifikasi LEI, dan faktor eksternal berupa kuatnya penetrasi skim lainnya. Salah satu kekuatan LEI adalah pengalamannya dalam menghimpun para pihak saat menyusun standar untuk berbagai sistem sertifikasi LEI.

LEI akan menghadapi calon kempetitor baru, karena The International Organization for Standardization (ISO) akan membentuk standar CoC untuk kayu, barang dari kayu dan material berlignin lainnya (misalnya bambu dan gabus) sebagai upaya mengurangi tingginya biaya atas penerapan beberapa skim CoC . Kemunculan CoC-ISO tak pelak ditolak keras oleh FSC dan PEFC karena berpotensi mengganggu dominasi duopoly keduanya. Saat ini sebanyak 17 negara telah berpartisipasi aktif dalam pembentukan standar CoC-ISO, dan 18 negara lainnya terlibat sebagai pemantau.

Ancaman terhadap LEI juga akn muncul dalam bentuk sistem pengganti. Penolakan pasar atas produk kayu tropis non-sertifikat dianggap sebagian kalangan sebagai hambatan teknis perdagangan (trade barrier) dan politik perlindungan (protectionism) terhadap produk kayu non tropis. Namun, ketiadaan laporan keberatan atas sistem sertifikasi yang disampaikan kepada WTO membuat sistem ini terus berjalan hingga sekarang.

Industri kehutanan pun akan menjadi ancaman bagi LEI. Setiap industri hanya akan memilih skim yang memiliki akseptabilitas paling besar pada urutan rantai pasok berikutnya. Terlibat dalam sertifikasi yang tidak diterima pasar dan tidak mampu membangun image positif perusahaan justru merupakan pemborosan secara ekonomi.

Ancaman terakhir datang dari pembeli. Pembeli asing terdiri atas importer, retailer, dan pembeli akhir. Pembeli pada umumnya memilih barang yang murah dan berkulitas. Namun jika dihadapkan pada pilihan produk yang ramah lingkungan, 73% pembeli mengaku bersedia membayar 12% lebih mahal dibanding produk yang tidak bersertifikat. Dalam hal ini kekuatan brand (skim) yang dapat menjamin bahwa suatu produk benar-benar dihasilkan dari sumber dan proses yang ramah lingkungan menjadi sangat vital.